Jakarta – Di tengah gejolak pasar energi global akibat perang di Timur Tengah, mantan Presiden AS Donald Trump mengklaim negaranya tak bergantung pada Selat Hormuz untuk pasokan minyak.
Trump bahkan menegaskan Amerika Serikat hampir tidak mengimpor minyak melalui jalur strategis tersebut.
“Amerika Serikat hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan melakukannya ke depan. Kami tidak membutuhkannya,” ujarnya, dikutip dari CNN, Kamis (2/4).
Menurutnya, sebagai salah satu produsen minyak dan gas terbesar dunia, AS cukup aman dari gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Namun, klaim Trump ini berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan. Harga BBM di AS melonjak hingga di atas US$4 per galon, level tertinggi sejak 2022.
Trump juga mendesak negara lain yang bergantung pada Selat Hormuz untuk lebih berperan dalam menjaga keamanan jalur tersebut.
Ia menyarankan negara-negara yang kekurangan pasokan energi untuk membeli dari AS.
“Negara-negara yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu. Kami akan membantu, tetapi mereka yang harus memimpin,” katanya.
Selat Hormuz adalah jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, menurut International Energy Agency.
Sebagian besar pasokan yang melintas di jalur tersebut dikirim ke negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk.
Pernyataan Trump dinilai mengabaikan dampak lebih luas dari perang yang dimulai dari agresi AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Invasi dua negara itu serta aksi balasan Iran telah mengguncang pasar global dan membebani negara-negara sekutu di Asia dan Eropa.
Meski Trump mengklaim harga energi akan segera turun setelah perang berakhir dan Selat Hormuz kembali dibuka, sejumlah ekonom dan analis meragukan hal tersebut.
Mereka memperingatkan kerusakan infrastruktur energi serta gangguan pasokan yang berkepanjangan berpotensi membuat harga minyak global tetap tinggi, bahkan jika perang segera mereda.





















