Jakarta – Bursa saham Amerika Serikat berakhir bervariasi pada penutupan perdagangan Jumat, 24 Juli 2026, dengan tekanan jual yang signifikan melanda sektor teknologi.
Indeks Nasdaq Composite mencatatkan koreksi sebesar 0,64% menjadi 24.975,82.
Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual investor terhadap saham-saham semikonduktor akibat meningkatnya kekhawatiran terkait besarnya belanja modal perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Di sisi lain, indeks S&P 500 hanya mampu mencatat kenaikan tipis sebesar 0,05% ke level 7.411,98.
Tekanan pada S&P 500 didominasi oleh penurunan indeks sektor teknologi sebesar 0,88% yang disebabkan oleh lesunya kinerja saham produsen chip.
Indeks Dow Jones Industrial Average berhasil melawan arus dengan menguat 235,60 poin atau 0,46% ke posisi 51.947,25.
Pelaku pasar saat ini tengah menanti rilis laporan keuangan kuartalan dari emiten raksasa teknologi seperti Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple pada pekan mendatang.
Namun, optimisme investor tampak mulai memudar setelah Alphabet melaporkan lonjakan belanja modal yang masif pada Rabu lalu demi membiayai ekspansi AI.
CEO Andersen Capital Management, Peter Andersen, menyoroti pergeseran sentimen pelaku pasar terkait investasi teknologi tersebut.
“Investor mulai bertanya-tanya, bagaimana kita harus memahami semua pengeluaran ini, dan berapa lama lagi kita harus bersabar sebelum benar-benar melihat investasi tersebut menghasilkan keuntungan nyata?” ujar Andersen, sebagaimana dikutip dari laporan pasar saham, Sabtu (25/7/2026).
Andersen menambahkan bahwa fenomena fear of missing out (FOMO) kini telah bertransformasi menjadi kekhawatiran akan pembangunan infrastruktur AI yang berlebihan.
“Rasa takut ketinggalan peluang kini mulai berubah menjadi kekhawatiran terhadap pembangunan kapasitas yang terlalu besar,” katanya.
Di sektor lain, sektor properti tampil sebagai pemimpin pasar dengan kenaikan 2,4%.
Digital Realty Trust menjadi pendorong utama sektor ini setelah menaikkan proyeksi dana operasional tahunan mereka, yang berujung pada lonjakan harga saham sebesar 11%.
Sektor material juga mencatatkan penguatan sebesar 1,44% yang didorong oleh antusiasme investor terhadap saham perusahaan kertas dan kemasan.
International Paper mencatatkan kenaikan harga saham sebesar 11,2%, menjadikannya saham dengan performa terbaik di indeks S&P 500 pada sesi tersebut.
Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh penurunan harga minyak mentah sebesar 3% akibat aksi ambil untung oleh investor.
Penurunan harga komoditas energi tersebut merespons laporan bahwa China tengah mendorong upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Meskipun demikian, ketegangan geopolitik tetap menjadi perhatian utama menyusul serangan rudal Amerika Serikat ke sejumlah target di Iran.
“Apa pun perkembangan berita terkait konflik saat ini akan menggerakkan harga minyak, dan harga minyak kemudian akan memengaruhi pasar keuangan,” ungkap Andersen.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati kebijakan tarif baru sebesar 10% hingga 12,5% yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap produk dari 60 mitra dagang.
Secara mingguan, ketiga indeks utama Wall Street kompak mencatatkan kinerja negatif.
Dow Jones melemah 0,4%, menandai penurunan selama tiga pekan beruntun.
S&P 500 turun 0,6% dan Nasdaq terkoreksi 2%, yang sekaligus mencatatkan pelemahan selama dua pekan berturut-turut untuk kedua indeks tersebut.






















