Wall Street Bervariasi, Saham Nasdaq Tertekan Kekhawatiran Belanja AI

persen

Wall Street Bervariasi, Saham Nasdaq Tertekan Kekhawatiran Belanja AI

New York – Bursa saham Amerika Serikat menunjukkan dinamika yang beragam pada pembukaan perdagangan Selasa (28/7/2026).

Indeks Nasdaq Composite terpaksa bergerak di zona merah akibat tekanan jual yang signifikan pada saham-saham sektor semikonduktor.

Data perdagangan menunjukkan Nasdaq Composite melemah 107 poin atau 0,43% ke level 24.825,07.

Indeks S&P 500 turut mengalami koreksi sebesar 17,6 poin atau 0,24% menjadi 7.395,55.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average justru mencatatkan penguatan sebesar 282,8 poin atau 0,54% ke level 52.492,88, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Sektor semikonduktor menjadi episentrum pelemahan pasar hari ini.

Saham Micron mencatatkan penurunan tajam sebesar 6,4%, sementara Intel tergelincir 4,8%.

Perusahaan Applied Materials juga mengalami kemerosotan nilai saham sebesar 4,5% selama sesi pra-pembukaan.

Emiten teknologi besar lainnya seperti TSMC dan SK Hynix yang tercatat di bursa AS masing-masing mengalami koreksi lebih dari 3%.

Raksasa teknologi Nvidia pun tak luput dari tren negatif dengan pelemahan sebesar 0,4%.

Sentimen negatif ini dipicu oleh meningkatnya keraguan investor terhadap efisiensi belanja modal perusahaan teknologi untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Pasar mulai mempertanyakan apakah investasi masif pada pusat data dan pengembangan chip akan menghasilkan imbal hasil yang memadai bagi pemegang saham.

“Pasar sangat khawatir terhadap besarnya belanja yang dilakukan para hyperscaler. Nilai investasinya sangat besar dan pada titik ini mulai terlihat tidak bertanggung jawab,” ujar Robert Pavlik, Senior Portfolio Manager Dakota Wealth.

Ketegangan geopolitik dan persaingan industri dari China turut memperumit prospek pasar semikonduktor global.

China diketahui mulai agresif memperkenalkan model AI dengan biaya lebih kompetitif serta memperkuat kapabilitas industri chip domestik mereka.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor kini menaruh perhatian penuh pada laporan keuangan empat raksasa teknologi, yakni Amazon.com, Meta, Apple, dan Microsoft.

Laporan yang dijadwalkan rilis pekan ini akan menjadi indikator krusial mengenai keberlanjutan permintaan infrastruktur AI.

Berbeda dengan sektor teknologi, saham di sektor barang konsumsi justru menunjukkan performa solid.

Coca-Cola melonjak 4% setelah perusahaan merevisi naik proyeksi laba dan pendapatan tahunan.

Saham Walmart dan Procter & Gamble juga mencatatkan apresiasi masing-masing sekitar 2%.

Di sektor industri, Boeing menguat 0,6% seiring dengan laporan arus kas bebas positif yang menjadi sinyal pemulihan bisnis.

Sementara itu, saham Johnson & Johnson naik 2% setelah tercapainya kesepakatan penyelesaian gugatan produk bedak berbahan talc senilai US$ 5,5 miliar.

Selain laporan laba, pelaku pasar tengah mengantisipasi hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve pada Rabu (29/7).

Data LSEG mengindikasikan adanya probabilitas 37% bagi The Fed untuk melakukan penyesuaian suku bunga pekan ini.

Ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun turut membayangi pergerakan aset berisiko.

Suku bunga tinggi dinilai akan menambah beban pembiayaan utang bagi perusahaan AI yang sedang gencar melakukan ekspansi.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah terkoreksi sekitar 1,8% ke level terendah dalam sepekan.

Penurunan ini terjadi seiring dengan berlanjutnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Meskipun laporan mengenai serangan drone masih muncul di beberapa wilayah, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa komunikasi diplomatik dengan Iran masih berjalan dengan baik.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar