Pertamina Genjot EBT, Jaga Ketahanan Energi Nasional

persen

respons-kondisi-geopolitik-terkini,-pertamina-dorong-energi-terbarukan
Respons Kondisi Geopolitik Terkini, Pertamina Dorong Energi Terbarukan

Jakarta – PT Pertamina (Persero) terus memacu pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) demi memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah ini diambil di tengah gejolak geopolitik global yang berdampak pada pasokan dan harga energi dunia.

Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, pengembangan EBT adalah langkah strategis perusahaan. Tujuannya, untuk mencapai ketahanan energi nasional dan mendukung target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) pemerintah.

“Dinamika geopolitik global mempengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi fosil,” kata Baron.

Oleh karena itu, Pertamina terus memperkuat bauran energi melalui pengembangan EBT. Upaya ini tidak hanya meningkatkan independensi energi nasional, tetapi juga menjadi bagian untuk energi yang lebih bersih bagi lingkungan.

Hingga akhir 2025, Pertamina menargetkan menghasilkan energi bersih hingga 8.743 GWh. Energi ini berasal dari berbagai sumber energi rendah karbon, termasuk panas bumi (geothermal) yang menjadi sumber energi bagi berbagai pembangkit dengan kapasitas terpasang mencapai 3.271 MW.

Beberapa proyek EBT Pertamina antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) sebesar 2,4 MW, Gas to Power dari Jawa Satu Power sebesar 1.760 MW, Gas to Power dari Pertamina Power Indonesia sebesar 12,9 MW, solar dari Pertamina Power Indonesia sebesar 55,3 MW, serta energi panas bumi sebesar 772,5 MW.

Selain itu, melalui subholding Pertamina New & Renewable Energy, perusahaan memiliki saham di Citicore Renewable Energy Corporation (CREC) di Filipina, yang menghasilkan pembangkit listrik tenaga surya sebesar 669,3 MW.

Pengembangan energi bersih tidak hanya fokus pada sektor komersial. Pertamina juga mendorong pemanfaatan energi bersih di tingkat masyarakat.

Hingga saat ini, Pertamina telah membangun 252 Desa Energi Berdikari (DEB) di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan untuk mengembangkan energi transisi, seperti panel surya, mikrohidro, biogas, dan energi terbarukan lainnya.

“Kami berharap dengan pemanfaatan energi transisi, masyarakat desa tak hanya memiliki ketahanan energi, tapi juga penggerak aktivitas ekonomi,” ujar Baron.

Dari 252 lokasi DEB, sebanyak 156 lokasi terbukti mampu memproduksi 15,8 ribu ton bahan pangan beras dan 890,4 ton bahan pangan non beras, yang mendukung ketahanan pangan nasional.

Ke depan, Pertamina berkomitmen untuk memperluas inisiatif berbasis energi bersih dan pemberdayaan masyarakat. Tujuannya, agar Indonesia tidak hanya mampu menghadapi gejolak ekonomi dan perubahan iklim, tetapi juga tumbuh menjadi pusat kemandirian energi dan ekonomi baru.

Pemanfaatan EBT ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) pemerintah. Pertamina berkomitmen mendorong transisi energi, tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai upaya menurunkan emisi karbon di Indonesia.

Rekomendasi