Jakarta – Indeks sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia mencatatkan kinerja positif pada sesi perdagangan Jumat (12/6/2026), dengan mayoritas saham bank berkapitalisasi besar atau big banks bergerak menguat. Tren kenaikan ini memperkuat optimisme pasar akan potensi pembalikan arah atau rebound yang lebih berkelanjutan dalam jangka pendek.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin penguatan di kelompok bank besar dengan kenaikan harga sebesar 4,29 persen ke level Rp 6.075 per lembar saham. Tren serupa diikuti oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang menguat 4,0 persen menjadi Rp 3.640, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 1,18 persen ke level Rp 4.300, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang tumbuh 1,05 persen menjadi Rp 2.880.
Tidak hanya bank berkapitalisasi besar, sentimen positif juga merambah ke saham perbankan lainnya. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan lonjakan harga paling signifikan sebesar 8,02 persen hingga menyentuh Rp 1.280. Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) naik 2,79 persen menjadi Rp 1.845 dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menguat 1,64 persen menjadi Rp 1.550.
Analis Korea Investment dan Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa lonjakan harga saham perbankan ini dipicu oleh kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen. Langkah ini dipandang investor sebagai sinyal kuat komitmen otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika ekonomi global.
Selain kebijakan suku bunga, Wafi menyoroti wacana aksi pembelian kembali atau buyback saham yang dilakukan oleh perbankan milik negara (Himbara) sebagai katalis utama kenaikan harga. Menurutnya, valuasi saham perbankan saat ini sudah berada di level yang cukup menarik atau murah bagi para investor, sehingga memicu aksi beli di pasar.
Meski tren penguatan terlihat jelas, pelaku pasar tetap perlu mencermati faktor eksternal yang akan mempengaruhi pergerakan harga saham perbankan ke depan. Wafi menekankan bahwa potensi kelanjutan rebound sangat bergantung pada hasil tinjauan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026 mendatang.
Selain tinjauan MSCI, realisasi nyata dari eksekusi buyback saham oleh bank-bank Himbara akan menjadi indikator krusial bagi investor dalam menentukan arah kebijakan investasi selanjutnya. Kombinasi antara stabilitas moneter, valuasi yang atraktif, dan aksi korporasi strategis menjadi penentu utama apakah reli harga saham perbankan ini dapat bertahan dalam jangka panjang atau hanya bersifat sementara. Investor disarankan untuk tetap memantau perkembangan kebijakan makroekonomi serta pengumuman korporasi besar yang akan dirilis dalam beberapa pekan ke depan.
























