Jakarta – PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan hingga mencapai US$ 22,75 juta atau setara Rp 410,69 miliar sepanjang semester pertama 2026.
Pencapaian ini mencerminkan pertumbuhan luar biasa sebesar 100,4 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan hanya membukukan laba bersih sebesar US$ 11,35 juta atau sekitar Rp 204,91 miliar.
Pendapatan perusahaan juga tercatat mengalami peningkatan sebesar 3 persen sepanjang semester I 2026.
Angka pendapatan tersebut menyentuh posisi US$ 131,2 juta atau setara Rp 2,37 triliun.
Pencapaian ini melampaui raihan pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka US$ 127,6 juta atau Rp 2,30 triliun.
Direktur Utama Rukun Raharja, Djauhar Maulidi, menegaskan bahwa perusahaan terus berupaya menjaga pertumbuhan kinerja di tengah berbagai tantangan operasional.
Strategi utama yang dijalankan mencakup disiplin operasional yang ketat serta optimalisasi portofolio investasi secara berkelanjutan.
Selain itu, perusahaan memanfaatkan momentum positif yang terjadi pada sektor hulu energi.
“Perseroan akan melanjutkan berbagai inisiatif strategis pada paruh kedua tahun 2026, termasuk percepatan pembangunan infrastruktur energi serta optimalisasi aset-aset yang telah beroperasi,” ujar Djauhar dalam pernyataan resminya, Jumat (31/7/2026).
Manajemen menjelaskan bahwa pertumbuhan pendapatan semester I 2026 didorong oleh kontribusi penuh dari proyek Sengkang Gas Compressor.
Proyek strategis tersebut kini telah beroperasi secara komersial dan memberikan dampak positif bagi keuangan perusahaan.
Kontribusi dari Sengkang Gas Compressor terbukti mampu menutup penurunan volume penjualan gas akibat gangguan teknis pada jaringan pipa di Sumatra.
Kinerja laba berjalan perusahaan pun turut terkerek naik menjadi US$ 28,9 juta atau sekitar Rp 521,53 miliar.
Angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 88 persen dari posisi US$ 15,4 juta atau Rp 277,91 miliar pada semester I 2025.
Djauhar merinci bahwa peningkatan laba didorong oleh sejumlah faktor fundamental.
Salah satunya adalah pendapatan investasi dari PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC).
PJUC memperoleh keuntungan dari rata-rata harga minyak yang menyentuh angka US$ 117 per BOEPD.
Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada periode yang sama tahun lalu di level US$ 74 per BOEPD.
Faktor pendukung lainnya berasal dari kontribusi pendapatan investasi Grup Hafar.
Selain itu, terdapat keuntungan dari pembelian murah atau gain on bargain purchase atas akuisisi participating interest di Blok Madura.
Ekspansi di Blok Madura tersebut dilakukan melalui PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).
Perusahaan optimistis bahwa inisiatif strategis ini akan terus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham hingga akhir tahun 2026.





















