Kinerja Astra (ASII) Melambat, Simak Rekomendasi Saham Berikut Ini

persen

Kinerja Astra (ASII) Melambat, Simak Rekomendasi Saham Berikut Ini

Jakarta – PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 6,7 triliun sepanjang kuartal II-2026. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 22,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu secara tahunan (year-on-year/YoY).

Meskipun demikian, perusahaan membukukan pertumbuhan laba sebesar 14,2% jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/QoQ). Secara akumulatif, laba bersih semester I-2026 mencapai Rp 12,5 triliun, yang berarti terjadi koreksi sebesar 19,2% dibandingkan semester I-2025.

Analis MNC Sekuritas, Rudy Setiawan, menyebut capaian tersebut masih berada di bawah ekspektasi pasar. Realisasi laba bersih ini baru memenuhi 39,7% dari estimasi MNC Sekuritas dan 38,4% dari konsensus analis untuk keseluruhan tahun 2026.

Penurunan laba ini dipengaruhi secara signifikan oleh pos-pos non-rutin yang mencapai Rp 2,4 triliun. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya berada di kisaran Rp 0,5 triliun.

Pos beban non-rutin tersebut mayoritas berasal dari penyesuaian nilai wajar (fair value adjustment) dan penurunan nilai (impairment) pada divisi panas bumi serta nikel. Rudy Setiawan dalam risetnya, Jumat (31/7/2026), menjelaskan, “Jika pos-pos non-rutin tersebut dikeluarkan dari perhitungan, laba bersih inti ASII sebenarnya hanya turun tipis 7,2% YoY menjadi Rp 14,9 triliun, dengan laba inti per saham sebesar Rp 372.”

Di sisi lain, pendapatan perusahaan pada kuartal II-2026 tercatat sebesar Rp 79,2 triliun. Angka ini cenderung stabil dengan penurunan tipis 0,3% secara tahunan, namun naik 0,7% secara kuartalan.

Total pendapatan selama semester I-2026 mencapai Rp 157,9 triliun, turun 3% secara tahunan. Perolehan ini dinilai masih sejalan dengan proyeksi pasar, yakni sekitar 49,4% dari estimasi tahunan MNC Sekuritas.

Kinerja sektor pertambangan dan alat berat menjadi beban utama perusahaan. Pendapatan di segmen ini merosot hingga 15% YoY. Penurunan tersebut dipicu oleh minimnya produksi emas dari tambang Martabe yang hanya mencapai 23.000 ons troy, jauh di bawah capaian periode sebelumnya sebesar 125.000 ons troy.

Selain itu, volume penjualan alat berat Komatsu anjlok 27% YoY. Sementara volume jasa kontraktor tambang dan pengangkutan batubara ikut turun 10% YoY, seiring dengan pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di industri pertambangan nasional.

Sebaliknya, segmen otomotif dan jasa keuangan memberikan kontribusi positif. Segmen otomotif tumbuh 6% YoY dengan pangsa pasar mencapai 51%. Pada saat yang sama, segmen jasa keuangan mencatat pertumbuhan 6% YoY yang didorong oleh peningkatan pembiayaan baru sebesar 10% YoY.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyatakan bahwa prospek kinerja pada semester II-2026 diperkirakan akan lebih baik. Abida kepada media, Jumat (31/7/2026), mengatakan, “Prospek kinerja pada semester II-2026 lebih baik seiring buyback Rp8 triliun yang berjalan dan pemulihan otomotif dengan pangsa pasar yang sudah menembus 50%.”

Abida menambahkan bahwa emiten seperti UNTR memiliki potensi pemulihan laba yang besar di semester kedua. Selain itu, sektor perkebunan melalui AALI diprediksi akan diuntungkan oleh program B50 dan kenaikan harga CPO.

Saat ini, baik MNC Sekuritas maupun BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ASII. Target harga yang ditetapkan masing-masing berada di level Rp 7.000 dan Rp 6.850 per saham.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar