Jakarta – Nilai tukar rupiah diprediksi akan menghadapi fase pengujian krusial pada perdagangan awal pekan ini, Minggu (6/9), seiring dengan antisipasi pasar terhadap rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang akan menjadi acuan kebijakan moneter The Fed.
Mata uang Garuda menutup perdagangan akhir pekan lalu di posisi Rp17.642 per dolar AS, mencatatkan penguatan sebesar 37 poin atau 0,21 persen.
Data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia bahkan menunjukkan apresiasi lebih tinggi dengan kurs berada di level Rp17.636 per dolar AS.
Kenaikan nilai tukar tersebut didorong oleh meredanya tekanan dolar AS di pasar global serta aliran masuk modal asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kendati demikian, penguatan tersebut masih dipandang sebagai langkah defensif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menegaskan bahwa dinamika rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal ketimbang kondisi domestik.
“Rupiah masih sangat ditentukan faktor global dibandingkan domestik, seperti data tenaga kerja AS, ekspektasi suku bunga The Fed, yield US Treasury, dan harga minyak,” ungkap Rizal, sebagaimana dikutip dari keterangan resminya pada Jumat (4/9).
Secara teknikal, arah pergerakan mata uang domestik sangat bergantung pada data non-farm payrolls (NFP) Amerika Serikat.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menjelaskan bahwa pelemahan data tenaga kerja AS, seperti kenaikan angka pengangguran dan melambatnya pertumbuhan upah, akan menjadi katalis positif bagi rupiah.
“Kondisi ini berpotensi menekan indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury, yang pada gilirannya membuka ruang apresiasi bagi rupiah,” ujar Syafruddin, dalam analisis ekonominya yang dirilis Jumat (4/9).
Sebaliknya, jika data tenaga kerja dirilis melampaui ekspektasi pasar, dolar AS diprediksi akan kembali menguat dan memberikan tekanan berat bagi mata uang di pasar negara berkembang.
Faktor likuiditas pasar yang tipis akibat libur Labor Day di Amerika Serikat juga diwaspadai dapat memicu volatilitas perdagangan selama sesi Asia.
Dari sisi domestik, posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$146 miliar menjadi bantalan penting dalam menahan gejolak pasar.
Operasi stabilisasi yang dijalankan Bank Indonesia diharapkan mampu memitigasi risiko dari kenaikan harga minyak Brent serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Proyeksi Syafruddin menunjukkan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.590 hingga Rp17.730 per dolar AS pada perdagangan Senin (7/9).
Sementara itu, Rizal memperkirakan rentang pergerakan yang sedikit lebih sempit, yakni di kisaran Rp17.580 hingga Rp17.720 per dolar AS.
Apabila sentimen global memberikan sokongan positif, rupiah berpotensi menguji level Rp17.550 per dolar AS.
Namun, jika data ekonomi AS justru menunjukkan lonjakan kuat, rupiah berisiko melemah kembali menuju area Rp17.750 per dolar AS.




















