Harga Emas Kembali Tertekan, Simak Sejumlah Pemicu Utamanya

Rayhan Akhari

Harga Emas Kembali Tertekan, Simak Sejumlah Pemicu Utamanya

Jakarta – Pasar komoditas emas global sedang menghadapi periode volatilitas yang cukup tajam hingga perdagangan Jumat (11/9/2026).

Logam mulia ini tercatat berada di jalur penurunan mingguan ketiga secara beruntun.

Sentimen utama yang menekan harga emas adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan agresif bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.

Data terkini menunjukkan harga emas spot sempat naik tipis 0,3% ke level US$ 4.326,88 per ons troi pada pukul 00.20 GMT, sebagaimana dilaporkan Reuters pada Jumat (11/9/2026).

Namun, kenaikan tipis tersebut tidak mampu menutupi tren pelemahan mingguan yang mencapai lebih dari 2%.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember bahkan mencatatkan penurunan sebesar 0,9% menjadi US$ 4.367,70 per ons troi.

Tekanan jual pada aset emas dipicu oleh data indeks harga produsen (PPI) Amerika Serikat yang menunjukkan kenaikan 0,4% pada Agustus.

Angka tersebut melampaui revisi kenaikan bulan Juli yang tercatat sebesar 0,1%.

Data PPI yang lebih kuat dari ekspektasi ini memicu spekulasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang.

Pasar saat ini tengah memusatkan perhatian pada rilis data indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan meluncur hari ini pukul 19.30 WIB.

“Data yang lebih kuat dari perkiraan akan memperkuat alasan untuk kenaikan suku bunga,” ujar Financial Markets Strategist Lead Exness, Wael Makarem.

Makarem menambahkan bahwa kondisi ekonomi tersebut berpotensi mendongkrak imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat serta memperkuat nilai tukar dolar.

Penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi secara otomatis memberikan beban tambahan bagi harga emas.

Meskipun emas secara tradisional berfungsi sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga tetap menjadi sentimen negatif.

Logam mulia tidak memberikan imbal hasil atau bunga, sehingga daya tariknya berkurang saat suku bunga berada di level tinggi.

Di sisi lain, pasar juga mengamati ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.

Kelompok Houthi dilaporkan telah menguasai kota pelabuhan Mocha di Yaman dan kini mulai bergerak menuju pulau-pulau strategis di Laut Merah.

Dinamika geopolitik ini memicu kenaikan harga minyak dunia hingga menembus level di atas US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei lalu.

Namun, lonjakan harga minyak justru menjadi pedang bermata dua bagi emas.

Kenaikan harga minyak dapat memperburuk ekspektasi inflasi, yang pada gilirannya membuat bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Sementara itu, pergerakan harga emas turut memengaruhi pasar logam mulia lainnya.

Harga perak spot terpantau turun 0,1% menjadi US$ 63,49 per ons troi dengan akumulasi pelemahan 4% sepanjang pekan ini.

Di sektor lainnya, platinum mencatatkan kenaikan 0,3% menjadi US$ 1.782,76 per ons troi.

Palladium juga menguat 0,5% ke level US$ 1.288 per ons troi.

Meskipun platinum dan palladium sempat mencatatkan kenaikan, kedua komoditas tersebut masih berada di jalur penurunan mingguan yang konsisten.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar