Jakarta – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menghadapi tantangan profitabilitas yang cukup signifikan sepanjang tahun 2026 akibat tekanan margin.
Meski demikian, fundamental perusahaan dinilai tetap terjaga kuat seiring dengan pertumbuhan volume penjualan yang solid.
Sepanjang semester I-2026, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 19,48 triliun, atau tumbuh 14,05% secara tahunan (year on year/YoY).
Seluruh segmen bisnis perusahaan tercatat memberikan kontribusi positif terhadap capaian pendapatan tersebut.
Segmen Distribusi dan Logistik memimpin pertumbuhan dengan kenaikan 26,62% menjadi Rp 7,20 triliun.
Selain itu, segmen Obat Resep tumbuh 7,27% menjadi Rp 5,30 triliun, sementara segmen Nutrisi meningkat 6,49% menjadi Rp 4,26 triliun.
Segmen Produk Kesehatan juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 10,85% dengan raihan Rp 2,71 triliun.
Kendati pendapatan meningkat, laba bersih perusahaan justru terkoreksi 2,74% menjadi Rp 1,97 triliun.
Penurunan ini dipicu oleh beban pokok penjualan yang membengkak 20,97% menjadi Rp 12,16 triliun.
Akibatnya, gross profit margin (GPM) perusahaan tergerus menjadi 37,56% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 41,14%.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Amand, menyatakan bahwa kinerja top line perusahaan tetap solid hingga periode berjalan.
“Top line tetap solid. Penjualan H1-2026 tumbuh 14,06% menjadi Rp19,47 triliun, berbasis volume, dan run-rate Juli-Agustus masih sejalan dengan tren Q2,” ujar Abida, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, tekanan margin diprediksi masih akan berlanjut pada paruh kedua 2026.
Kondisi ini terutama disebabkan oleh ketergantungan biaya produksi terhadap dolar AS yang mencapai sekitar 50%.
Dengan asumsi nilai tukar rupiah di kisaran Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per dolar AS, perbaikan margin pada semester II-2026 diperkirakan masih terbatas.
Pemulihan margin yang lebih signifikan baru diproyeksikan terealisasi mulai tahun 2027 mendatang.
Senada dengan hal tersebut, analis Sinarmas Sekuritas, Vita Lestari, menilai tekanan laba saat ini hanya bersifat jangka pendek.
Vita memandang tahun 2026 sebagai titik terendah margin atau margin trough bagi perseroan.
“Kami melihat 2026 sebagai titik terendah margin, dengan profitabilitas yang secara bertahap membaik mulai 2027 seiring peningkatan ASP dan perbaikan product mix,” ungkap Vita dalam risetnya, (17/9/2026).
Pandangan serupa datang dari Tim Riset Phintraco Sekuritas yang menyoroti beban bahan baku impor.
“Tekanan biaya yang terjadi mencerminkan tekanan struktural akibat kenaikan biaya bahan baku impor di tengah pelemahan rupiah,” tulis Tim Riset Phintraco Sekuritas dalam risetnya, (10/8/2026).
Walau demikian, ketiga lembaga sekuritas tersebut tetap memberikan rekomendasi beli (buy) terhadap saham KLBF.
Target harga yang ditetapkan bervariasi, mulai dari Rp 900, Rp 1.000, hingga Rp 1.500 per saham.






















