Jakarta – Digital Edge (Hong Kong) Ltd kini semakin memperkuat kendali kepemilikan saham di PT Indointernet Tbk (EDGE) melalui aksi korporasi penawaran tender sukarela atau voluntary tender offer.
Hingga Selasa (6/10/2026), perusahaan tersebut telah berhasil menyerap sebanyak 7,71 juta lembar saham milik publik.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya transformasi besar perusahaan.
Sekretaris Perusahaan Indointernet, Jennifer Tiurland, menegaskan bahwa aksi ini bertujuan untuk mengubah status emiten tersebut.
“Penawaran tender sukarela tersebut dilakukan dalam rangka perubahan status EDGE dari perusahaan terbuka menjadi perusahaan tertutup, termasuk rencana pembatalan pencatatan saham atau delisting,” ujar Jennifer dalam keterbukaan informasi yang diterbitkan pada Selasa (6/10/2026).
Dalam proses pengambilalihan saham tersebut, Digital Edge menetapkan harga beli sebesar Rp 11.500 per lembar saham.
Berdasarkan data perusahaan, akumulasi 7,71 juta saham yang telah dibeli tersebut setara dengan 4,84% dari total saham yang menjadi objek penawaran tender sukarela.
Proses akuisisi saham ini dilakukan secara bertahap dalam tiga periode waktu yang berbeda.
Penyelesaian pembayaran untuk periode terakhir tercatat rampung pada 2 Oktober 2026.
Pada periode pertama yang berakhir pada 5 Agustus 2026, Digital Edge menyerap 7,12 juta saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp 81,86 miliar.
Berlanjut ke periode kedua yang diselesaikan pada 4 September 2026, perusahaan kembali membeli 360.600 saham senilai Rp 4,15 miliar.
Terakhir, pada periode ketiga yang rampung pada 2 Oktober 2026, sebanyak 234.700 saham berhasil dibeli dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,7 miliar.
Secara keseluruhan, total kepemilikan yang diperoleh melalui mekanisme tender sukarela ini mencapai 7.714.000 lembar saham.
Perubahan status menjadi perusahaan tertutup (go private) ini memang menjadi fokus utama Digital Edge (Hong Kong) Ltd terhadap Indointernet.
Dengan adanya aksi beli ini, valuasi saham yang masih menjadi objek penawaran tender sukarela pun mengalami penyesuaian.
Per 4 September 2026, nilai saham yang menjadi objek penawaran tercatat sebesar Rp 1,749 triliun.
Angka tersebut kemudian mengalami penurunan tipis menjadi Rp 1,746 triliun per 2 Oktober 2026 setelah transaksi pada periode ketiga selesai dilakukan.
Langkah delisting ini diprediksi akan mengubah struktur kepemilikan dan tata kelola Indointernet secara signifikan ke depan.
Para pemegang saham publik yang tersisa kini memiliki opsi untuk melepas kepemilikan mereka sesuai dengan harga yang telah ditetapkan dalam penawaran tender sukarela tersebut.
Manajemen Indointernet memastikan seluruh proses ini berjalan sesuai dengan regulasi pasar modal yang berlaku di Indonesia.
Hingga saat ini, proses transisi dari perusahaan publik menjadi perusahaan privat masih terus berjalan di bawah pengawasan otoritas terkait.





















