Data Tenaga Kerja AS Lemah, Rupiah Berpeluang Menguat Tipis

persen

Jakarta – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan akhir pekan dengan menunjukkan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat, 3 Juli 2026.

Data Bloomberg mencatat mata uang Garuda dibuka di level Rp 17.950 per dolar AS.

Posisi ini mencerminkan apresiasi sebesar 0,25 persen atau setara dengan 45 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.

Tren positif tersebut terus berlanjut hingga pukul 09.15 WIB dengan menyentuh level Rp 17.946 per dolar AS.

Kenaikan tersebut setara dengan penguatan 0,27 persen atau sebesar 49 poin.

Kondisi ini merupakan pembalikan arah setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah sempat ditutup melemah di level Rp 17.995 per dolar AS.

Pelemahan dolar AS di pasar global menjadi katalis utama bagi penguatan mata uang negara-negara berkembang.

Pemicu utamanya adalah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, yakni Non-Farm Payrolls (NFP), yang tercatat berada di bawah ekspektasi pasar.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai bahwa dolar AS kehilangan momentum setelah data tenaga kerja menunjukkan perlambatan penciptaan lapangan kerja secara signifikan.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang tertekan setelah data pekerjaan AS NFP yang lebih lemah dari perkiraan. Namun penguatan akan terbatas mengingat sentimen investor asing terhadap pasar domestik masih belum pulih,” ujar Lukman.

Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS sepanjang hari ini.

Pandangan senada disampaikan oleh Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana.

Fikri memperkirakan rupiah memiliki potensi untuk mencatat apresiasi tipis hingga berada di level Rp 17.980 per dolar AS.

Menurutnya, data NFP periode Juni 2026 yang hanya mencatat penambahan 57 ribu lapangan kerja menjadi faktor krusial yang menekan posisi mata uang Paman Sam.

Kendati demikian, para pelaku pasar tetap bersikap waspada terhadap dinamika kebijakan moneter ke depan.

Tingkat pengangguran di Amerika Serikat justru dilaporkan turun ke posisi 4,2 persen.

Angka tersebut membuat investor tetap mencermati arah kebijakan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.

Selain sentimen dari data ekonomi Amerika Serikat, rupiah juga mendapatkan dukungan dari membaiknya kondisi kawasan Asia-Pasifik.

Laporan menunjukkan aktivitas manufaktur serta sektor jasa di Australia dan Jepang mengalami perbaikan yang cukup signifikan.

Meskipun terdapat dorongan dari sentimen eksternal, penguatan rupiah dinilai masih akan menemui hambatan teknis.

Sentimen investor asing terhadap pasar domestik yang belum sepenuhnya pulih menjadi catatan tersendiri bagi para pelaku pasar keuangan di Indonesia.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar