Dino Patti Djalal Soroti Tantangan Eksekusi Target 100 GW PLTS

Dino Patti Djalal Soroti Tantangan Eksekusi Target 100 GW PLTS

Jakarta – Rencana besar pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) kini menjadi sorotan tajam para pengamat kebijakan energi nasional.

Proyek ambisius tersebut disambut baik sebagai langkah strategis bagi transisi energi bersih di tanah air.

Namun, efektivitas eksekusi di lapangan menjadi catatan utama yang membayangi keberlangsungan megaproyek tersebut.

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menekankan bahwa tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah memastikan setiap rencana dapat direalisasikan secara konkret.

Dino mengingatkan adanya kecenderungan program-program besar yang terhenti di tengah jalan akibat lemahnya implementasi.

“Jadi ini tantangan dari 100 GW PLTS. Kita welcome the statement, the announcement, the ambition, but the question is, let’s deliver,” ujar Dino dalam Press Briefing Indonesia Net Zero Summit 2026, Rabu (29/7).

Ia membandingkan pencapaian tersebut dengan keberhasilan Tiongkok yang mampu membangun 200 GW PLTS hanya dalam kurun waktu enam bulan.

Menurut Dino, pemerintah Tiongkok memiliki kedisiplinan tinggi dalam mengeksekusi target yang telah ditetapkan.

“Apa yang saya respect dari Tiongkok, kalau mereka punya rencana, mereka over deliver. Kalau mereka punya target ‘segini’, mereka tidak akan menyampaikannya kecuali mereka benar-benar sudah hitung akan tercapai, bahkan lebih cepat,” tuturnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adiguna, mengenai pentingnya sinkronisasi antara perencanaan dan realisasi.

Ia menyarankan agar pemerintah tidak hanya terpaku pada angka besar, tetapi juga memecahnya menjadi target-target kecil yang berjangka pendek.

“Oke 100 GW, tetapi perhatikan realisasi yang kecil kalau kita mau melihat jarumnya bergeser,” ucap Putra.

Putra menambahkan bahwa Indonesia dapat mengadopsi pola kerja negara tetangga di kawasan ASEAN yang fokus menyelesaikan target dalam rentang waktu 12 hingga 24 bulan.

Pemerintah sendiri telah memberikan sinyal kuat untuk segera memulai tahapan awal proyek ini.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa proses groundbreaking proyek PLTS 100 GW tengah dipersiapkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil usai melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo pada Selasa (28/7).

Keterlibatan investor asing, khususnya dari Tiongkok, juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk merealisasikan proyek tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya telah mengundang perusahaan-perusahaan asal Tiongkok untuk berinvestasi dalam megaproyek tersebut.

Proyek ini ditargetkan tuntas pada tahun 2029 sebagai bagian dari komitmen transisi energi dan hilirisasi industri nasional.

Airlangga menegaskan bahwa pengembangan industri panel surya domestik akan tetap diperkuat guna menciptakan rantai pasok yang terintegrasi secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar