Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan hari Kamis (23/7/2026) dengan pelemahan tipis sebesar 0,30 persen atau 19,16 poin ke level 6.315,31.
Koreksi ini terjadi setelah indeks sempat menunjukkan performa positif dengan bergerak di zona hijau selama hampir sepanjang waktu perdagangan berlangsung.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business mencatat bahwa pergerakan indeks sepanjang hari berada pada rentang titik terendah 6.306 hingga level tertinggi 6.454.
Tekanan terhadap IHSG dipicu oleh pelemahan pada empat indeks sektoral utama dari total 11 sektor yang terdaftar di bursa.
Sektor perindustrian mencatatkan koreksi paling dalam dengan penurunan mencapai 1,32 persen.
Indeks sektor barang konsumer non-primer menyusul dengan pelemahan sebesar 1,16 persen.
Selain itu, sektor keuangan terkoreksi 0,89 persen, sementara sektor kesehatan melemah tipis sebesar 0,10 persen.
Di sisi lain, pasar mencatat sentimen positif dari delapan sektor yang mampu bertahan di zona penguatan.
Sektor properti memimpin dengan kenaikan 3,13 persen, diikuti oleh sektor barang konsumer primer sebesar 1,56 persen.
Sektor energi mencatatkan penguatan 1,52 persen dan sektor transportasi naik sebesar 1,33 persen.
Aktivitas perdagangan di bursa domestik cukup padat dengan total volume transaksi mencapai 62,94 miliar saham.
Nilai transaksi harian yang tercatat di pasar modal mencapai angka signifikan, yakni sebesar Rp 23,78 triliun.
Secara keseluruhan, terdapat 299 saham yang mengalami koreksi dan memberikan beban bagi pergerakan IHSG.
Sementara itu, sebanyak 321 saham lainnya berhasil mencatatkan penguatan.
Sebanyak 176 saham lainnya terpantau bergerak stagnan sepanjang hari perdagangan tersebut.
Dalam periode yang sama, investor asing kembali melakukan aksi jual bersih atau net sell dalam skala besar.
Data menunjukkan nilai net sell asing di seluruh pasar mencapai Rp 1,22 triliun.
Kendati tekanan jual asing cukup masif, sejumlah saham tetap menjadi target akumulasi oleh investor luar negeri.
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) memimpin daftar saham dengan nilai net buy asing terbesar yakni Rp 95,73 miliar.
Posisi kedua ditempati oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan nilai beli bersih Rp 78,18 miliar.
Selanjutnya, investor asing memborong PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dengan nilai Rp 41,27 miliar serta PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp 41,15 miliar.
Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga mencatatkan net buy asing sebesar Rp 35,82 miliar.
Urutan berikutnya diisi oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan Rp 33,73 miliar dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) senilai Rp 23,49 miliar.
Melengkapi daftar sepuluh besar, investor asing mengakumulasi saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) sebanyak Rp 22,18 miliar.
Dua posisi terakhir diisi oleh PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar Rp 20,88 miliar dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) senilai Rp 19,96 miliar.





















