IHSG Terkoreksi 0,64%, Simak Sentimen Penggerak Bursa Kamis (30/7)

IHSG Terkoreksi 0,64%, Simak Sentimen Penggerak Bursa Kamis (30/7)

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan hari ini, Rabu (29/7/2026), dengan pelemahan sebesar 0,64 persen atau tergerus 39,20 poin ke posisi 6.091,39.

Pergerakan indeks sempat mencatatkan tren positif pada awal pembukaan pasar sebelum akhirnya berbalik arah ke zona merah hingga penutupan.

Tekanan jual yang terjadi di pasar modal dalam negeri dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, baik dari dinamika domestik maupun kondisi ekonomi global.

Faktor utama yang menahan laju IHSG adalah ketidakpastian kepemimpinan di Bank Indonesia pasca pengunduran diri Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Senior Market Chartist dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa pelaku pasar memilih bersikap hati-hati dalam merespons transisi kebijakan moneter tersebut.

“Ketidakpastian ini masih dapat membatasi penguatan IHSG hingga pasar memperoleh kejelasan mengenai arah kebijakan moneter dan calon pengganti Gubernur BI yang baru,” ujar Nafan, Rabu (29/7/2026).

Selain isu domestik, investor saat ini tengah menanti hasil rapat Federal Reserve (The Fed) terkait kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Nafan menjelaskan bahwa mayoritas konsensus memprediksi suku bunga akan tetap bertahan di level 3,75 persen.

“Namun apabila terdapat kejutan hawkish, maka hal ini berpotensi memberikan sentimen negatif bagi market,” imbuhnya.

Menatap perdagangan esok hari, Kamis (30/7/2026), Nafan memproyeksikan IHSG akan bergerak dengan level support di rentang 5.931 hingga 6.031.

Sementara itu, level resistance indeks diperkirakan berada di angka 6.130 hingga 6.254.

Di sisi lain, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyoroti dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap pasar saham.

Harga minyak global tercatat naik lebih dari 3 persen akibat eskalasi tensi geopolitik di wilayah Timur Tengah.

“IHSG ditutup melemah di level 6.091,39 pada perdagangan hari ini, setelah sempat dibuka menguat. Saham sektor properti mengalami koreksi terbesar, sementara sektor teknologi mencatatkan kenaikan,” jelas Alrich.

Dampak tekanan global ini juga merembet ke pasar valuta asing yang membuat nilai tukar rupiah mengalami volatilitas.

Rupiah sempat tertekan hingga mendekati level Rp18.100 per dolar AS sebelum berakhir di angka Rp18.073 per dolar AS.

Secara teknikal, Alrich mengamati indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) yang menunjukkan histogram positif mulai menyempit.

Kondisi tersebut memberikan indikasi adanya potensi pembentukan pola death cross pada grafik pergerakan indeks.

Meskipun demikian, posisi IHSG masih terpantau bertahan di atas garis Moving Average (MA) 20 dan MA 50.

Struktur teknikal ini memberikan sinyal bahwa tren pelemahan saat ini masih berada dalam batas yang relatif wajar.

“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi bergerak sideways pada kisaran 6.000-6.150 pada perdagangan Kamis,” tutup Alrich.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar