Indeks Sektor Kesehatan Anjlok 29,57%, Peluang Rebound Mulai Terbuka

Indeks Sektor Kesehatan Anjlok 29,57%, Peluang Rebound Mulai Terbuka

Jakarta – Indeks sektor kesehatan atau IDXHEALTH mencatatkan kinerja negatif yang signifikan sepanjang tahun 2026.

Data per 17 Juli 2026 menunjukkan indeks tersebut telah terkoreksi sebesar 29,57% secara year-to-date (YtD).

Tekanan pasar yang berkepanjangan ini menempatkan sektor kesehatan dalam posisi yang cukup berat dalam peta perdagangan Bursa Efek Indonesia.

Kendati demikian, para pelaku pasar masih melihat adanya celah untuk pemulihan harga hingga pengujung tahun nanti.

Valuasi saham-saham di sektor kesehatan saat ini dinilai sudah berada di titik yang jauh lebih menarik bagi investor.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menyatakan bahwa prospek sektor kesehatan masih menghadapi serangkaian tantangan nyata.

“Kami melihat prospek IDXHEALTH hingga akhir 2026 masih cukup menantang, meskipun peluang rebound tetap terbuka seiring valuasi yang mulai lebih menarik setelah koreksi cukup dalam,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Pihaknya menyoroti bahwa pemulihan sektor ini sangat bergantung pada beberapa faktor makro ekonomi.

Kondisi daya beli masyarakat menjadi variabel penentu utama bagi kinerja emiten di sektor farmasi dan penyedia layanan rumah sakit.

Peningkatan volume pasien juga menjadi indikator krusial yang dipantau oleh para analis untuk mengukur stabilitas pendapatan emiten.

Di sisi lain, investor tetap bersikap waspada terhadap berbagai risiko operasional yang membayangi emiten kesehatan.

“Investor masih akan mencermati tekanan margin akibat tingginya biaya operasional, depresiasi dari ekspansi, serta persaingan yang semakin ketat,” imbuh Azis.

Kehadiran pemain baru di bursa dipandang sebagai angin segar bagi dinamika sektor kesehatan nasional.

Emiten seperti PRDL, JECX, dan EMMI dinilai mampu memberikan variasi baru dalam peta investasi kesehatan di Bursa Efek Indonesia.

“Kehadiran emiten baru berpotensi meningkatkan variasi subsektor kesehatan dan memperluas pilihan investasi,” ungkapnya.

Selain itu, aksi korporasi berupa ekspansi rumah sakit dari emiten besar turut menjadi sorotan.

Langkah ekspansi yang dilakukan oleh SRAJ, HEAL, dan PRAY diproyeksikan mampu mendorong pertumbuhan pendapatan dalam jangka menengah hingga panjang.

“Ekspansi rumah sakit oleh SRAJ, HEAL, dan PRAY dapat menjadi katalis pertumbuhan pendapatan melalui penambahan kapasitas layanan,” tegas Azis.

Namun, ia memberikan catatan penting mengenai dampak dari aksi ekspansi tersebut terhadap neraca keuangan perusahaan.

“Dalam jangka pendek, ekspansi berpotensi menekan profitabilitas akibat meningkatnya belanja modal, biaya operasional awal, dan beban penyusutan sebelum utilisasi optimal,” paparnya.

Di tengah ketidakpastian ini, pemilihan saham secara selektif menjadi kunci bagi investor untuk meminimalisir risiko.

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) muncul sebagai salah satu pilihan investasi yang direkomendasikan.

“Kami merekomendasikan buy untuk KLBF dengan target harga Rp970 per saham,” tutup Azis.

Secara keseluruhan, sektor kesehatan dinilai masih memegang potensi pertumbuhan jangka panjang yang solid.

Walaupun demikian, pergerakan saham di sektor ini diprediksi masih akan mengalami fluktuasi dalam waktu dekat.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar