Kapasitas Global Membludak, Kinerja Emiten Baja Terancam Lesu

persen

Kapasitas Global Membludak, Kinerja Emiten Baja Terancam Lesu

Jakarta – Industri baja nasional menghadapi tantangan berat sepanjang sisa tahun 2026 akibat ancaman banjir produk impor yang dipicu oleh kelebihan kapasitas produksi global.

Kementerian Perindustrian mencatat tekanan terhadap sektor baja domestik meningkat signifikan seiring dengan upaya negara-negara produsen besar mengalihkan kelebihan pasokan mereka ke pasar baru.

Data Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan kelebihan kapasitas produksi baja global mencapai 640 juta ton pada 2025 dan berpotensi melonjak hingga 745 juta ton pada 2028.

Di tengah situasi tersebut, pertumbuhan permintaan baja dunia diperkirakan hanya berada di kisaran 0,9 persen per tahun.

Kondisi ini memaksa negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi sasaran utama pengalihan perdagangan global.

Corporate Secretary PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), Johaness Edward, mengakui bahwa kelebihan pasokan global merupakan tantangan sistemik bagi seluruh produsen baja.

“Diperlukan konsistensi pemerintah dalam menegakkan kebijakan mengenai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dan Sertifikat Nasional Indonesia (SNI),” ujar dia, Kamis (20/8).

Meskipun dampak impor bagi ISSP saat ini masih relatif terbatas karena fokus pada produk khusus, industri secara luas tetap rentan terhadap tekanan harga.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai risiko utama bagi emiten bukan sekadar volume impor, melainkan potensi praktik penjualan harga rendah yang menekan margin keuntungan.

“Artinya, meski sejumlah emiten berhasil meraih perbaikan kinerja pada semester I-2026, keberlanjutan laba tetap bergantung pada kemampuan mempertahankan volume, margin dan utilisasi, bukan hanya pertumbuhan pendapatan,” ungkap dia, Kamis (20/8).

Selain ancaman impor, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyoroti risiko normalisasi harga input produksi.

Faktor pendukung margin pada semester pertama, seperti harga gas yang rendah dan kenaikan harga Hot Rolled Coil (HRC), tidak menjamin akan bertahan selamanya.

“Perlambatan sektor konstruksi domestik tetap jadi risiko bagi sektor baja jika stabilitas BI Rate tidak berdampak ke pemulihan permintaan,” imbuh dia, Kamis (20/8).

Untuk memitigasi risiko tersebut, emiten dituntut untuk mempercepat peralihan ke segmen produk bernilai tambah tinggi yang lebih tahan terhadap persaingan harga.

Arinda menambahkan bahwa strategi efisiensi energi, cost leadership, dan penguatan utilisasi pabrik menjadi kunci bagi keberlangsungan bisnis emiten baja saat ini.

Sementara itu, pengamat pasar modal, Kiswoyo Adi Joe, melihat proyek infrastruktur pemerintah sebagai penopang utama permintaan domestik.

Menurutnya, emiten yang memiliki biaya produksi kompetitif, neraca sehat, dan produk terdiferensiasi akan menjadi pilihan paling menarik bagi investor.

Secara spesifik, ia menilai saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) memiliki potensi dengan target harga masing-masing di level Rp 300 dan Rp 500 per saham.

Ke depan, pelaku pasar disarankan untuk terus memantau realisasi kebijakan proteksi perdagangan, terutama terkait Bea Masuk Anti Dumping (BMAD), sebagai penentu arah valuasi sektor baja di dalam negeri.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar