Jakarta – Kualitas kredit korporasi di Indonesia menunjukkan tanda-tanda pelemahan pada kuartal II 2026 akibat gejolak ekonomi global dan domestik yang kian menekan dunia usaha.
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat penurunan signifikan pada indikator Pefindo Net Rating Action yang kini berada di level -1.
Angka ini merupakan penurunan dari posisi netral atau level 0 yang sebelumnya sempat dipertahankan oleh perusahaan pemeringkat efek tersebut.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, mengungkapkan bahwa tren negatif ini dipicu oleh aksi penurunan peringkat (downgrade) yang lebih banyak dibandingkan kenaikan peringkat (upgrade).
Hasil pengamatan terhadap 71 aksi pemeringkatan menunjukkan terdapat tiga perusahaan yang mengalami penurunan peringkat, sementara hanya dua perusahaan yang mendapatkan kenaikan peringkat.
Dinamika ini mencerminkan adanya peningkatan tekanan terhadap profil kredit perusahaan-perusahaan di tanah air.
“Persentase bias negatif juga meningkat seiring bertambahnya perusahaan yang disematkan outlook negatif dan CreditWatch pada kondisi saat ini,” ujar Suhindarto dalam laporan risetnya, Minggu (26/7/2026).
Meskipun terjadi tekanan pada kuartal II, Pefindo mencatat adanya perbaikan distribusi peringkat secara keseluruhan dibandingkan dengan semester pertama tahun 2025.
Perusahaan yang masuk dalam kategori layak investasi atau investment grade tercatat mengalami peningkatan persentase.
Selain itu, angka gagal bayar yang diukur berdasarkan perusahaan penerbit maupun nilai instrumen justru menunjukkan penurunan.
Suhindarto menegaskan bahwa tingkat afirmasi peringkat yang tinggi terhadap total aksi pemeringkatan menjadi bukti bahwa kinerja banyak perusahaan masih relatif stabil.
Dalam upaya menjaga akurasi peringkat, Pefindo kini memberikan perhatian ekstra pada faktor risiko geopolitik serta fluktuasi nilai tukar rupiah.
Kepala Divisi Pemeringkatan Non Jasa Keuangan 1 Pefindo, Martin Johannes, menjelaskan bahwa perusahaan yang memiliki ketergantungan pada aktivitas perdagangan mata uang asing menjadi pihak yang paling rentan terdampak.
“Dalam pemantauan kami sektor-sektor hilirisasi seperti stainless steel, HPAL, aluminium, itu sedikit banyaknya terpapar risiko geopolitik dan pelemahan rupiah,” kata Martin, Rabu (22/7/2026).
Selain sektor hilirisasi, sektor transportasi, jasa konstruksi, ritel, properti, dan pariwisata juga dinilai memiliki risiko serupa.
Sebaliknya, Pefindo memproyeksikan beberapa sektor memiliki potensi kenaikan peringkat berkat orientasi pasar ekspor serta kebijakan pemerintah.
Sektor minyak dan gas bumi di segmen hulu, pertambangan emas, serta perkebunan sawit diprediksi akan mendapatkan dampak positif dari situasi ekonomi saat ini.
Implementasi kebijakan B50 menjadi salah satu katalis utama yang menjaga stabilitas permintaan di sektor perkebunan.
“Ini menyebabkan permintaan terhadap industri perkebunan lebih stabil, lebih solid, sehingga kami nilai perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan sawit mendapatkan manfaat dari kondisi yang dihadapi saat ini,” jelas Martin.























