Menanti Keputusan RDG BI, Ini Strategi Investasi yang Tepat

Menanti Keputusan RDG BI, Ini Strategi Investasi yang Tepat

Jakarta – Para pelaku pasar modal di Indonesia kini menempuh strategi tunggu dan lihat (wait and see) menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Ketidakpastian arah kebijakan moneter dalam negeri memicu sikap hati-hati di kalangan investor di tengah volatilitas pasar yang masih membayangi.

Meskipun sentimen pasar cenderung waspada, data menunjukkan adanya aliran dana asing masuk ke pasar obligasi Indonesia.

Laporan Reuters yang merujuk pada data regulator pasar obligasi di kawasan Asia menyebutkan, investor asing mencatatkan pembelian bersih obligasi senilai US$ 11,51 miliar sepanjang Juni 2026.

Indonesia menjadi destinasi utama arus masuk modal tersebut dengan nilai mencapai US$ 5,5 miliar.

Jumlah ini merupakan angka pembelian bersih tertinggi sejak Mei 2024 sekaligus melampaui capaian negara-negara lain di kawasan regional.

Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh, menyatakan bahwa sebagian besar modal asing masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Khoon Goh menilai daya tarik imbal hasil atau yield Indonesia yang relatif tinggi menjadi pendorong utama minat investor asing tersebut.

Berbeda dengan pasar obligasi, pasar saham masih menghadapi tantangan arus keluar modal yang cukup masif.

Data mencatat terjadi aksi jual bersih atau net sell asing sebesar Rp 91,76 triliun secara year-to-date di pasar reguler.

Ekonom Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan, memproyeksikan Bank Indonesia akan cenderung menahan diri pada RDG Juli 2026.

“Tujuannya untuk mengamati transmisi kebijakan yang mulai menunjukkan hasil, termasuk yield SBN yang terangkat dan pergerakan aliran modal asing di pasar SBN yang sudah berbalik menjadi net inflow sejak pekan pertama Juli 2026,” ungkap Zaidan, Jumat (17/7/2026).

Zaidan menambahkan, risiko pasar saham saat ini lebih dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah ketimbang keputusan suku bunga acuan.

Ia menyarankan investor untuk lebih memperhatikan rilis laporan laba emiten kuartal II 2026 sebagai acuan utama dalam mengambil keputusan investasi.

Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyoroti pentingnya sinyal kebijakan baru dibandingkan sekadar angka suku bunga.

“Efeknya ke IHSG lebih ke timing aliran masuk asing, bukan mengubah tesis jangka menengah,” jelas Rully, Minggu (19/7/2026).

Rully merekomendasikan sektor perbankan besar, khususnya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), sebagai instrumen yang memiliki ketahanan likuiditas baik di tengah tren bunga tinggi.

Di sisi lain, Direktur PT Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, menekankan pentingnya penyesuaian profil risiko bagi para investor.

“Sebab, yield masih kompetitif, potensi capital gain akan meningkat apabila BI nantinya mulai menurunkan suku bunga, serta risiko volatilitas lebih rendah dibanding saham,” ujar Edwin, Minggu (19/7/2026).

Edwin menyarankan kombinasi portofolio antara obligasi dan saham sebagai langkah mitigasi yang tepat.

Strategi ini dianggap mampu menyeimbangkan stabilitas pendapatan dari obligasi serta potensi pertumbuhan jangka panjang dari pasar saham yang saat ini memiliki valuasi menarik.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar