Menimbang Dampak Suku Bunga Tinggi terhadap Sektor Riil Nasional

Kebijakan BI pertahankan suku bunga tinggi picu kekhawatiran sektor riil, khususnya manufaktur dan UMKM, hadapi biaya pinjaman membengkak dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Rayhan Akhari

ongkos-jaga-rupiah:-benarkah-bunga-tinggi-mulai-cekik-industri-dan-umkm?
Ongkos Jaga Rupiah: Benarkah Bunga Tinggi Mulai Cekik Industri dan UMKM?

Jakarta – Kebijakan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi kini mulai memicu kekhawatiran serius terhadap keberlangsungan sektor riil di tanah air.

Pelaku usaha, khususnya di sektor manufaktur dan UMKM, terpaksa menanggung beban biaya pinjaman yang kian membengkak akibat BI Rate yang kini bertengger di angka 5,75 persen.

Kondisi ini menciptakan dilema ekonomi antara menjaga stabilitas nilai tukar rupiah atau memacu pertumbuhan dunia usaha yang mulai melambat.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menilai ketergantungan berlebih pada instrumen suku bunga berisiko membawa ekonomi nasional ke dalam fase stagnasi.

“Jika terlalu defensif, kita berisiko masuk ke situasi di mana ekonomi stabil tapi stagnan,” ujar Ronny, Rabu (15/7).

Menurutnya, otoritas moneter perlu mencari titik keseimbangan agar upaya menjaga rupiah tidak mematikan ekspansi bisnis maupun penciptaan lapangan kerja baru.

Ronny menyarankan agar BI tidak bekerja sendirian dan mulai mengoptimalkan instrumen lain, seperti intervensi valas serta kebijakan makroprudensial yang lebih longgar bagi sektor produktif.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah melalui stimulus fiskal dan insentif pajak untuk menjaga napas industri padat karya di tengah tekanan biaya modal yang tinggi.

Di sisi lain, Pengamat Ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memandang langkah BI sebagai tindakan krusial untuk menjaga kredibilitas kebijakan di tengah gejolak eksternal.

Yusuf berpendapat bahwa stabilitas rupiah adalah prasyarat mutlak bagi dunia usaha, mengingat tingginya ketergantungan industri manufaktur terhadap bahan baku impor.

“Jika rupiah melemah terlalu tajam, biaya produksi akan naik dan inflasi impor meningkat, yang pada akhirnya justru memaksa suku bunga naik lebih tinggi lagi,” jelas Yusuf.

Meski demikian, ia mengakui bahwa dampak pengetatan moneter ini sudah mulai terlihat nyata melalui pelemahan aktivitas manufaktur dan stagnasi kredit UMKM.

Yusuf menegaskan bahwa kondisi saat ini merupakan peringatan bagi pelaku usaha bahwa tekanan ekonomi sedang berlangsung, meski belum mencapai tahap krisis.

Rekomendasi