Jakarta – Nilai tukar rupiah diprediksi kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (21/7/2026) akibat sentimen geopolitik global yang kian memanas.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama investor beralih ke aset aman atau safe haven, seperti dolar Amerika Serikat.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa pelaku pasar saat ini tengah memantau ketat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Konflik tersebut diketahui melibatkan serangan balasan antara Komando Pusat AS (CENTCOM) dan pihak Iran sepanjang akhir pekan lalu.
Perebutan kendali atas jalur strategis Selat Hormuz menjadi titik sentral dari ketegangan militer yang kembali membara ini.
“Harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap di atas target Federal Reserve, yang berpotensi memaksa para pembuat kebijakan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama,” ujar Ibrahim dikutip dari laporan analisis pasar, Selasa (21/7/2026).
Ia menambahkan bahwa suku bunga yang tetap tinggi secara historis akan memberikan dukungan bagi imbal hasil obligasi pemerintah serta penguatan dolar AS.
Gangguan pada jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz dipastikan memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Berdasarkan proyeksi teknikal, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp 17.940 hingga Rp 18.000 per dolar AS pada hari ini.
Sebagai pembanding, rupiah spot pada penutupan Senin (20/7/2026) berada di level Rp 17.948 per dolar AS, atau melemah 0,15 persen dibanding penutupan akhir pekan lalu.
Kurs Jisdor Bank Indonesia juga mencatat pelemahan serupa sebesar 0,18 persen ke level Rp 17.976 per dolar AS.
Selain faktor eksternal, Ibrahim menekankan bahwa fundamental ekonomi dalam negeri juga memberikan tekanan tambahan bagi mata uang Garuda.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diprediksi hanya menyentuh angka 4,9 persen secara tahunan (year on year).
Meskipun realisasi investasi nasional tercatat mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen, angka tersebut belum cukup kuat untuk menopang perlambatan konsumsi rumah tangga.
“Di tengah derasnya arus investasi asing, melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level 5 persen,” kata Ibrahim, Senin (20/7/2026).
Terdapat anomali dalam komposisi investasi, di mana Penanaman Modal Asing (PMA) tumbuh signifikan sebesar 27,5 persen.
Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru mengalami kontraksi sebesar 7,8 persen, yang merupakan penurunan pertama sejak kuartal pertama tahun 2021.
Kondisi ini mencerminkan pelaku usaha lokal yang masih menahan diri untuk melakukan ekspansi akibat tingginya biaya pendanaan serta ketidakpastian iklim ekonomi.
Pemerintah disarankan untuk segera memacu investasi di sektor padat karya, seperti manufaktur, tekstil, dan industri kreatif digital.
Langkah ini dianggap krusial untuk menciptakan lapangan kerja baru sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global yang tidak menentu.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penyederhanaan birokrasi perizinan juga menjadi agenda mendesak guna menjaga keberlanjutan investasi ke depan.

























