Jakarta – Umat Islam akan segera menyambut pergantian tahun baru Hijriah, yakni 1 Muharram 1448 H. Berdasarkan sistem penanggalan Islam, tahun baru 2026 ini jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Mengingat pergantian hari dalam kalender Hijriah dihitung setelah terbenamnya matahari, maka momen pergantian tahun tersebut akan dimulai sejak waktu Magrib pada Senin, 15 Juni 2026.
Pergantian tahun Hijriah merupakan momentum spiritual yang signifikan bagi umat Muslim di seluruh dunia. Momen ini sering kali dimanfaatkan untuk melakukan refleksi diri, memperkuat intensitas doa, serta membuka lembaran baru dengan sikap yang lebih optimis dan hati yang tenang. Tradisi menyambut tahun baru dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui penyebaran pesan-pesan positif yang kreatif, seperti melalui pantun.
Penggunaan pantun sebagai media penyampaian pesan dinilai efektif karena sifatnya yang menghibur namun tetap sarat akan nasihat. Kreativitas dalam merangkai kata-kata tidak hanya sekadar formalitas, tetapi juga mampu membangun suasana yang hangat dan akrab saat dibagikan kepada keluarga, kerabat, maupun rekan sejawat melalui berbagai kanal komunikasi.
Para pengamat budaya dan praktisi dakwah sering menyarankan penggunaan gaya bahasa yang ringan untuk menyampaikan pesan keagamaan agar lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan. Dalam konteks tahun baru Islam, pantun-pantun yang disusun biasanya mengandung ajakan untuk meningkatkan amal ibadah, mempererat silaturahmi, serta memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Terdapat berbagai tema yang diangkat dalam pantun-pantun tersebut, mulai dari yang bernuansa islami yang penuh khidmat, hingga pantun jenaka yang diselipkan bumbu humor agar tidak terkesan kaku. Selain itu, banyak pula pantun yang disusun dengan makna mendalam untuk menyentuh sisi emosional pembaca agar lebih fokus pada perbaikan kualitas iman dan takwa.
Penggunaan media pantun ini mencerminkan tradisi lisan yang masih relevan di era modern. Dengan memadukan unsur sastra tradisional dan semangat modernitas, umat Islam diharapkan dapat merayakan tahun baru dengan cara yang tetap santun, edukatif, serta berorientasi pada nilai-nilai spiritual. Hal ini menjadi salah satu bentuk ekspresi syukur atas kesempatan umur yang masih diberikan untuk terus memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.
Memasuki 1 Muharram 1448 H, masyarakat diimbau untuk menjadikan momen ini sebagai titik balik dalam memperbaiki kualitas ibadah. Fokus utama bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan kedalaman makna hijrah dalam kehidupan sehari-hari, yakni berpindah dari perilaku yang kurang baik menuju perilaku yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain di sekitar, sesuai dengan ajaran agama Islam.
























