Jakarta – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat sepanjang semester pertama tahun 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi tajam hingga 34,74 persen secara year to date.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 30 Juni 2026, indeks ditutup pada level 5.643,19.
Penurunan signifikan ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif yang berasal dari dinamika ekonomi domestik maupun global.
Investor asing menjadi motor utama pelemahan indeks melalui aksi jual masif di seluruh pasar.
Tercatat, investor asing melakukan net sell jumbo dengan nilai mencapai Rp 60,2 triliun selama periode enam bulan pertama tahun 2026.
Sektor perbankan menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh para pemodal asing.
Saham-saham berkapitalisasi besar atau big cap perbankan mengalami tekanan jual paling dominan dibandingkan sektor lainnya.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menempati urutan pertama sebagai saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing.
Akibat tekanan jual tersebut, harga saham BBCA merosot 33,73 persen ke level Rp 5.550 per lembar saham.
Posisi kedua ditempati oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan nilai jual bersih asing yang cukup besar.
Saham BBRI tercatat ambruk 26,42 persen dan ditutup pada level Rp 2.730 per saham di akhir Juni 2026.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melengkapi daftar tiga besar saham perbankan yang paling banyak dilego asing.
Harga saham BMRI tertekan turun hingga 20,62 persen ke level Rp 3.850 per saham sejak awal tahun.
Secara keseluruhan, arus keluar modal asing menyebabkan volatilitas tinggi pada jajaran saham blue chip di Bursa Efek Indonesia.
Selain sektor perbankan, sejumlah saham dari sektor energi dan infrastruktur juga masuk dalam daftar jual bersih asing terbesar.
Berikut adalah daftar 10 saham dengan nilai net sell terbesar oleh investor asing sepanjang enam bulan terakhir:
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai jual bersih mencapai Rp 34,16 triliun.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 15,92 triliun.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan nilai jual bersih sebesar Rp 11,14 triliun.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 10,65 triliun.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai jual bersih sebesar Rp 5,69 triliun.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan nilai jual bersih sebesar Rp 4,18 triliun.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 2,96 triliun.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan nilai jual bersih sebesar Rp 2,36 triliun.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan nilai jual bersih sebesar Rp 2,31 triliun.
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 1,97 triliun.
Para analis pasar modal menilai bahwa kondisi ini mencerminkan sikap kehati-hatian investor global terhadap pasar berkembang.
Ketidakpastian ekonomi makro menjadi faktor kunci yang mendorong pelaku pasar melakukan realisasi keuntungan atau memindahkan aset ke instrumen yang lebih aman.
























