New York – Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu volatilitas tajam pada pembukaan perdagangan Wall Street, Senin (13/7/2026).
Ketegangan di Timur Tengah memaksa indeks utama bursa saham Amerika Serikat bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah pada sektor-sektor berisiko tinggi.
Data perdagangan menunjukkan indeks S&P 500 terkoreksi sebesar 27,9 poin atau 0,37% ke level 7.547,53.
Kondisi serupa dialami oleh Nasdaq Composite yang terpantau turun 193,3 poin atau 0,74% ke posisi 26.088,313.
Berbeda dengan dua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average justru mencatatkan penguatan tipis sebesar 39,5 poin atau 0,08% ke level 52.676,53.
Sentimen pasar tertekan setelah Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas serangkaian serangan yang terjadi selama akhir pekan.
Penutupan jalur vital distribusi energi global ini membatalkan kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang sempat dicapai bulan lalu.
Eskalasi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah berjangka lebih dari 3% di pasar global.
Para investor kini tengah menimbang risiko stabilitas pasokan energi terhadap prospek pertumbuhan ekonomi yang sempat terjaga.
“Konflik Iran yang semakin meningkat menguji apakah pertumbuhan pasar saham secara luas dapat bertahan, dan pasar harus menyeimbangkan sisi positif dari kekuatan pendapatan perusahaan dengan sisi negatif dari risiko geopolitik,” ujar kepala investasi di Resonate Wealth Partners, Alex Guiliano, Senin (13/7/2026).
Sektor teknologi, khususnya produsen semikonduktor, menjadi sasaran aksi jual paling agresif oleh para pelaku pasar.
Saham Micron Technology terpantau merosot 4,9% diikuti oleh Western Digital yang terkoreksi 5,1%.
Penurunan serupa dialami oleh saham Seagate sebesar 4% dan Sandisk sebesar 5,4%.
Produsen chip asal Korea Selatan, SK Hynix, yang baru saja melantai di bursa Nasdaq, bahkan harus menelan pil pahit dengan penurunan harga saham sebesar 9,3%.
Secara keseluruhan, ETF semikonduktor iShares mencatatkan pelemahan sebesar 3,1% pada awal sesi perdagangan.
Kondisi pasar saat ini dinilai cukup krusial mengingat pekan ini akan diisi oleh rilis data ekonomi penting dan laporan pendapatan kuartal kedua perusahaan besar.
Meskipun terdapat volatilitas, indeks S&P 500 tercatat masih mampu membukukan kenaikan lebih dari 10% sepanjang tahun 2026.
Analis memproyeksikan pendapatan perusahaan dalam indeks S&P 500 akan tumbuh sebesar 23,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Keyakinan tersebut didasari oleh profil belanja konsumen Amerika yang dinilai tetap kuat di tengah tantangan inflasi.
“Konsumen menunjukkan ketahanan yang luar biasa dan saya memperkirakan pendapatan bank kemungkinan akan cukup baik, mengingat lingkungan konsumen saat ini,” tutur pendiri Andersen Capital Management, Peter Andersen, Senin (13/7/2026).
Fokus pasar selanjutnya akan beralih pada rilis indeks harga konsumen AS yang dijadwalkan pada Selasa (14/7).
Data inflasi tersebut diprediksi akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve ke depannya.
Investor juga menantikan kesaksian kebijakan moneter pertama dari Ketua Fed, Kevin Warsh, di hadapan Kongres.
Hingga saat ini, pasar masih mengantisipasi setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum tahun 2026 berakhir.
























