Harga Emas Berbalik Menguat Usai Data Inflasi Produsen AS Melandai

Rayhan Akhari

Harga Emas Berbalik Menguat Usai Data Inflasi Produsen AS Melandai

New York – Indeks harga produsen Amerika Serikat yang melambat secara signifikan pada Juni 2026 menjadi sentimen utama yang menahan laju pelemahan harga emas global pada perdagangan Rabu (15/7/2026).

Harga emas spot tercatat bergerak stabil di level US$ 4.057,34 per ons troi.

Sebelumnya, logam mulia ini sempat mengalami tekanan jual hingga menyentuh angka penurunan hampir 1%.

Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 0,4% ke posisi US$ 4.051,80 per ons troi.

Data Producer Price Index (PPI) AS menunjukkan penurunan sebesar 0,3% secara bulanan pada Juni.

Angka tersebut berbalik drastis dari kenaikan 0,6% yang tercatat pada Mei, setelah dilakukan revisi.

Capaian ini berada di bawah ekspektasi para ekonom yang sebelumnya memprediksi bahwa PPI akan cenderung stagnan.

Sentimen positif dari data inflasi produsen ini turut didukung oleh melambatnya inflasi konsumen AS yang rilis sehari sebelumnya.

“Data PPI yang lebih rendah dari perkiraan meredakan kekhawatiran bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga beberapa kali tahun ini,” ujar Chief Market Strategist Blue Line Futures, Phillip Streible, sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya, Kamis (16/7/2026).

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS pada pertemuan Juli kini menyusut menjadi 10,2%.

Angka tersebut tercatat turun dibandingkan probabilitas sebelumnya yang mencapai 16,6% sebelum data inflasi dipublikasikan.

Meski demikian, potensi penguatan emas masih terganjal oleh eskalasi konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.

Amerika Serikat dilaporkan memulai rangkaian serangan baru terhadap Iran setelah memberlakukan kembali blokade laut di kawasan tersebut.

Situasi semakin memanas karena Iran melontarkan ancaman untuk membatasi ekspor energi dari wilayah tersebut sebagai respons atas tindakan AS.

Konflik ini memicu lonjakan harga minyak dunia yang secara langsung meningkatkan kekhawatiran akan kembalinya tekanan inflasi global.

Senior Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga, menyoroti bahwa ketegangan di sekitar Selat Hormuz berisiko menciptakan tekanan ekonomi baru.

“Jika konflik mendorong harga minyak lebih tinggi, emas berpotensi tertekan karena suku bunga tinggi bisa bertahan lebih lama,” jelas Lukman Otunuga.

Secara teknikal, Lukman memprediksi emas memiliki potensi koreksi ke level US$ 3.950 apabila harga berhasil menembus batas support.

Sebaliknya, jika emas mampu mempertahankan posisinya di atas US$ 4.000, logam mulia ini berpeluang kembali menguat menuju target US$ 4.100 per ons troi.

Sementara itu, dinamika pasar logam mulia lainnya menunjukkan pergerakan yang bervariasi sepanjang perdagangan Rabu kemarin.

Harga perak tercatat mengalami koreksi sebesar 1,8% menjadi US$ 57,55 per ons troi.

Berbeda dengan perak, harga platinum justru mencatatkan kenaikan sebesar 0,9% ke level US$ 1.646,47 per ons troi.

Adapun palladium mengalami pelemahan sebesar 0,9% dan ditutup di angka US$ 1.293,58 per ons troi.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar