Morowali – Proyek PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) di International Green Industrial Park (IGIP) mencapai tahap krusial melalui pemasangan autoclave High Pressure Acid Leach (HPAL) berkapasitas 1.268 meter kubik.
Pemasangan komponen raksasa ini menandai fase strategis pembangunan pabrik yang mengintegrasikan keunggulan sumber daya, teknologi, dan akses pasar global.
Teknologi HPAL yang diterapkan di lokasi ini tercatat sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Kapasitas ini diproyeksikan menjadi standar baru dalam pengolahan nikel yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa proyek ini merepresentasikan sinergi tiga kekuatan utama industri masa depan.
“Dengan kapasitas terbesar di dunia yang pernah diterapkan pada fasilitas HPAL, Sambalagi HPAL hari ini menetapkan standar baru, bukan sekadar mengikuti standar yang sudah ada,” ujar Rosan dikutip dari laman resmi pemerintah, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, hilirisasi nikel Indonesia kini bertransformasi menjadi ekosistem yang bernilai tambah tinggi.
BNSI merupakan hasil kolaborasi lintas negara antara PT Vale Indonesia Tbk, GEM Co., Ltd., dan EcoPro.
Vale Indonesia berkontribusi melalui penyediaan cadangan nikel kelas dunia dari lahan seluas 118.000 hektare.
GEM Co., Ltd. membawa keahlian teknologi HPAL serta pengalaman rantai hilirisasi bijih nikel laterit.
Sementara itu, EcoPro memperkuat rantai pasok melalui penguasaan teknologi material katoda dan jaringan industri kendaraan listrik global.
Chairman GEM Co., Ltd., Prof. Xu Kaihua, mengungkapkan bahwa teknologi HPAL generasi terbaru ini mampu mengolah bijih nikel berkadar rendah.
“Sebelumnya industri HPAL memerlukan nikel berkadar sekitar 1,0% hingga 1,2%. Dengan teknologi terbaru di Sambalagi, kami mampu memproses bijih berkadar 0,8%, 0,6%, bahkan hingga 0,4%,” ungkap Prof. Xu dalam pernyataan resmi perusahaan.
Inovasi tersebut memungkinkan pemanfaatan cadangan nikel yang lebih luas dengan tingkat efisiensi energi yang lebih baik.
Di sisi lain, aspek keberlanjutan menjadi fondasi utama untuk menembus pasar internasional.
Chairman EcoPro, Lee Dong-chae, menegaskan bahwa produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dari Sambalagi dirancang untuk memenuhi regulasi ketat seperti Inflation Reduction Act di Amerika Serikat dan regulasi baterai Uni Eropa.
“Bahan katoda kami dipasok ke berbagai pembuat mobil terkemuka dunia. Karena itu, kami wajib memenuhi standar lingkungan dan prinsip ESG yang sangat ketat,” jelas Lee dalam laporan proyek.
Proyek dengan nilai investasi mencapai US$1,845 miliar ini menargetkan produksi 90.000 ton MHP per tahun.
Produksi tersebut diprediksi mampu menyuplai bahan baku untuk kebutuhan sekitar 3 juta kendaraan listrik.
Selain kontribusi ekspor sebesar US$1,5 miliar per tahun, proyek ini juga menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja.
Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menambahkan bahwa desain efisiensi proyek ditujukan agar tetap kompetitif di tengah volatilitas harga nikel global.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah saat ini tengah menggenjot program pelatihan vokasi dan sertifikasi untuk memastikan tenaga kerja lokal terserap maksimal dalam ekosistem industri ini.






















