Jakarta – PT MRT Jakarta menghadapi tantangan konstruksi dan koordinasi yang sangat rumit dalam merealisasikan proyek Pedestrian Deck di kawasan Dukuh Atas.
Proyek infrastruktur melingkar ini dirancang sebagai penghubung utama bagi enam moda transportasi publik di Jakarta.
Pembangunan ini menjadi krusial untuk menciptakan integrasi antarmoda yang mulus bagi para pengguna transportasi umum.
Namun, pengerjaan di lapangan jauh lebih sulit dibandingkan dengan desain yang telah direncanakan.
Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, mengungkapkan bahwa proyek ini memiliki dua beban kerja utama, yakni aspek teknis dan administratif.
“PR-nya bikin proyek ini ada dua, teknis sama administratif,” ujar Agus.
Secara teknis, tim konstruksi harus membangun pondasi di sela-sela terowongan MRT yang masih aktif beroperasi.
Struktur bentang jembatan juga harus melintasi sungai dan Jalan Jenderal Sudirman tanpa mengganggu arus lalu lintas di bawahnya.
Selain itu, rumah pompa di sisi selatan kawasan wajib tetap beroperasi penuh selama masa konstruksi untuk mencegah banjir di underpass Sudirman.
“Itu ketika pembangunan kita harus maintain biar tetap beroperasional. Karena kita enggak bisa kalau dia mati, itu cepat naik air di underpass, lalu cepat banjir,” jelas Agus.
Dari sisi administratif, MRT Jakarta harus mengelola koordinasi lintas instansi yang melibatkan banyak pemilik aset dan operator transportasi.
TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, menegaskan bahwa pengembangan kawasan berbasis transit tidak bisa dilakukan secara mandiri.
“Kalau misalnya dalam pengelolaan kawasan TOD ini kita memang enggak bisa bergerak sendiri dan kita butuh kolaborasi dari semua stakeholders dalam pengembangannya,” kata Sagita.
Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, hingga berbagai operator transportasi terkait.
Tujuan utamanya adalah memastikan seluruh pengembangan kawasan berjalan selaras dan memberikan manfaat ekonomi serta konektivitas yang lebih luas bagi masyarakat.























