Margin Tertekan, Kalbe Farma Berupaya Optimalkan Kualitas Pertumbuhan Kinerja

Rayhan Akhari

Margin Tertekan, Kalbe Farma Berupaya Optimalkan Kualitas Pertumbuhan Kinerja

Jakarta – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menghadapi tantangan efisiensi yang signifikan di tengah lonjakan volume penjualan sepanjang semester I-2026.

Meskipun perusahaan farmasi ini berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 14 persen menjadi Rp19,47 triliun, performa profitabilitasnya justru menunjukkan pelemahan.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani menyatakan bahwa kenaikan pendapatan tersebut tidak dibarengi dengan kenaikan laba yang sepadan.

“Laba bruto hanya tumbuh sekitar 4,4 persen, sementara laba bersih turun sekitar 2,8 persen,” kata Ester Mulyani dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun KLBF mampu menjual lebih banyak produk, margin keuntungan yang diperoleh dari setiap rupiah penjualan menjadi semakin tipis.

Penurunan margin laba kotor dari 41 persen menjadi 37,5 persen menjadi bukti nyata adanya tekanan beban operasional yang kian berat.

Kenaikan beban pokok penjualan sebesar 20,7 persen menjadi Rp12,16 triliun menjadi faktor utama yang menggerus profitabilitas perusahaan.

Lonjakan beban ini dipicu oleh kombinasi kenaikan harga bahan baku global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta pergeseran bauran produk yang kurang menguntungkan.

Ketergantungan terhadap bahan baku impor juga terkonfirmasi melalui kerugian kurs yang mencapai Rp54,89 miliar pada periode tersebut.

Dari sisi operasional, segmen distribusi dan logistik menjadi kontributor pendapatan terbesar dengan nilai Rp7,20 triliun.

Sementara itu, segmen obat resep mencatatkan penjualan sebesar Rp5,30 triliun.

“Distribusi menjadi pendorong omzet, tetapi obat resep lebih penting untuk pemulihan margin karena memiliki profitabilitas yang lebih tinggi,” ungkap Ester Mulyani.

Masalah lain muncul pada manajemen modal kerja perusahaan yang terlihat kurang optimal.

Terdapat kenaikan piutang sebesar 16,48 persen menjadi Rp6,58 triliun dan kenaikan persediaan sebesar 13,43 persen menjadi Rp7,92 triliun.

Kondisi arus kas operasi yang hanya mencapai Rp1,25 triliun, atau lebih rendah dari laba bersih, menjadi indikator bahwa pertumbuhan penjualan belum sepenuhnya terkonversi menjadi kas.

“Hal ini menunjukkan sebagian pertumbuhan penjualan masih tertahan dalam bentuk piutang dan persediaan,” ujar Ester Mulyani.

Prospek kinerja pada semester II-2026 diprediksi masih memiliki peluang untuk membaik, meski pergerakannya akan berjalan secara bertahap.

Stabilitas nilai tukar rupiah dan efisiensi biaya bahan baku akan menjadi penentu utama pemulihan margin perusahaan di sisa tahun ini.

Selain itu, inovasi pada segmen produk biologis, onkologi, vaksin, dan alat kesehatan diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi margin laba.

Secara teknikal, saham KLBF kini terpantau tengah menunjukkan sinyal bullish reversal setelah menyentuh area support di level Rp680 hingga Rp700 per saham.

Harga saham saat ini sedang menguji level resistance di kisaran Rp790 sampai Rp810.

Ester Mulyani menyarankan investor untuk mengambil sikap wait and see atau menunggu konfirmasi pergerakan harga selanjutnya.

“Jika mampu menembus Rp810 dengan volume besar, peluang naik ke Rp840-Rp860 terbuka,” jelasnya.

Namun, jika harga gagal menembus level tersebut, saham KLBF berpotensi mengalami koreksi ke rentang Rp760 hingga Rp770 per lembar saham.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar