IHSG Diprediksi Menguat ke Level 6.900 Menanti Hasil RDG BI

IHSG Diprediksi Menguat ke Level 6.900 Menanti Hasil RDG BI

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan bergerak dalam rentang konsolidasi pada perdagangan pekan ini, Senin (20/7/2026).

Sentimen utama yang membayangi pasar adalah sikap antisipatif investor menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Pelaku pasar saat ini tengah menanti kejelasan arah kebijakan moneter bank sentral, khususnya terkait suku bunga acuan.

Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah dan prospek arus modal asing ke pasar domestik menjadi perhatian utama dalam pertemuan tersebut.

Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pasar saat ini lebih memprioritaskan sinyal kebijakan dibandingkan besaran suku bunga itu sendiri.

“Pasar umumnya lebih sensitif terhadap forward guidance yang disampaikan Bank Indonesia dibandingkan keputusan suku bunga itu sendiri,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Minggu (19/7/2026).

Hendra memaparkan bahwa IHSG berpotensi bergerak pada kisaran 6.000 hingga 6.300 selama periode RDG berlangsung.

Ia menambahkan, reaksi pasar akan cenderung positif selama Bank Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, Hendra memperingatkan adanya risiko tekanan jangka pendek bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga.

“Apabila muncul sinyal pengetatan yang lebih agresif, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih mungkin terjadi, terutama pada sektor yang sensitif terhadap suku bunga,” jelasnya.

Di sisi lain, pergerakan IHSG hingga akhir tahun diprediksi masih memiliki peluang untuk menguat di tengah volatilitas yang diprediksi tetap tinggi.

Faktor eksternal seperti kebijakan The Fed, dinamika geopolitik, harga komoditas, serta kinerja laba emiten akan menjadi variabel penentu.

“Arah pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi kebijakan BI, tetapi juga keputusan The Fed, kondisi geopolitik, nilai tukar rupiah, harga komoditas, serta kinerja laba emiten,” ungkapnya.

Indikator positif lainnya terlihat dari masuknya dana asing pada perdagangan akhir pekan lalu yang mencerminkan pemulihan kepercayaan investor.

Jika stabilitas makroekonomi terjaga, Hendra optimistis IHSG memiliki potensi untuk menembus level 7.000 pada akhir tahun.

Saat ini, valuasi pasar saham Indonesia dianggap cukup menarik dengan price to earnings ratio (PER) yang berada di bawah 9 kali.

Investor disarankan untuk tetap selektif dalam menyusun portofolio dengan fokus pada sektor perbankan, telekomunikasi, serta komoditas.

Hendra juga menyoroti sektor infrastruktur yang berpotensi mendapatkan sentimen positif dari akselerasi belanja pemerintah pada semester kedua.

Beberapa saham pilihan yang direkomendasikan mencakup PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 4.710 dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di level Rp 6.850.

Selain itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan target Rp 3.130 serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) di posisi Rp 3.030 turut masuk dalam daftar pantauan.

Strategi buy on weakness atau akumulasi bertahap saat terjadi koreksi dinilai menjadi langkah yang paling bijak bagi investor saat ini.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar