Wall Street Terkoreksi, Saham Teknologi dan Harga Minyak Guncang Pasar

persen

Wall Street Terkoreksi, Saham Teknologi dan Harga Minyak Guncang Pasar

Jakarta – Bursa saham Amerika Serikat mengalami tekanan jual signifikan pada perdagangan Kamis (23/7/2026), yang menyebabkan indeks utama Wall Street terperosok ke level terendah dalam beberapa pekan terakhir.

Sentimen negatif pasar dipicu oleh kombinasi kekhawatiran investor terhadap efektivitas belanja modal perusahaan teknologi raksasa dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) serta lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Laporan keuangan kuartal II-2026 dari Alphabet dan Tesla menjadi katalis utama pelemahan sektor teknologi.

Kedua emiten yang masuk dalam kelompok “Magnificent Seven” tersebut gagal memenuhi ekspektasi pasar, sehingga memicu aksi jual masif.

Saham Alphabet merosot sebesar 6,4% setelah investor merespons negatif rencana perusahaan untuk terus meningkatkan belanja modal demi mendominasi sektor AI.

Direktur Investasi AJ Bell, Russ Mould, menyatakan bahwa Alphabet saat ini sedang mengerahkan sumber daya dalam skala masif untuk mempertahankan daya saing di industri teknologi.

“Alphabet menghabiskan ratusan miliar dolar AS untuk tetap berada di depan dalam perlombaan pengembangan AI. Namun, masih terdapat tingkat skeptisisme yang cukup tinggi mengenai kemampuan investasi tersebut menghasilkan imbal hasil yang sepadan,” ujar Mould, sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi perusahaan, Jumat (24/7/2026).

Pelemahan Alphabet turut menyeret sektor layanan komunikasi dalam indeks S&P 500 turun sebesar 4,4%.

Sementara itu, saham Tesla anjlok hingga 12,2% setelah perusahaan mencatatkan arus kas bebas negatif pada kuartal II-2026, sebuah kondisi yang baru terjadi kembali setelah lebih dari dua tahun.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menambah beban bagi pelaku pasar keuangan global.

Harga minyak mentah jenis Brent sempat menembus angka US$ 100 per barel, level tertinggi yang tercatat sejak akhir Mei, menyusul meningkatnya ancaman keamanan di sekitar Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.

Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa pemerintahannya akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap tindakan agresif yang dilakukan kelompok Houthi di Yaman terhadap kepentingan global.

Lonjakan harga komoditas energi ini memicu kekhawatiran baru mengenai potensi kenaikan inflasi yang berkepanjangan.

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa pasar kini mengantisipasi peluang sebesar 38% bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juli mendatang, naik signifikan dari level 12% sepekan sebelumnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun pun melonjak ke level tertinggi dalam 17 bulan terakhir sebagai bentuk respons pasar terhadap potensi kebijakan moneter yang lebih agresif.

Hingga penutupan perdagangan, indeks Nasdaq Composite mencatatkan koreksi terdalam sebesar 1,69% ke level 25.257,79.

Indeks S&P 500 melemah 0,95% menjadi 7.428,04, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,97% ke posisi 51.713,72.

Dominasi saham yang melemah terlihat jelas di Bursa Efek New York dengan rasio penurunan terhadap kenaikan mencapai 2,72 banding 1.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar