Jakarta – Nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan pergerakan positif pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (10/7/2026).
Mata uang Garuda berhasil menguat sebesar 0,35% ke posisi Rp 18.065 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pencapaian ini mencatatkan perbaikan nilai setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah sempat tertekan di angka Rp 18.128 per dolar AS.
Meskipun mencatatkan penguatan harian, performa rupiah secara mingguan masih berada dalam tren negatif dengan akumulasi pelemahan sebesar 0,56%.
Kondisi pasar valuta asing di kawasan Asia secara umum menunjukkan sentimen yang sama terhadap mata uang Paman Sam.
Hampir seluruh mata uang utama di Asia kompak bergerak menguat di hadapan dolar AS pada perdagangan sore hari.
Yen Jepang memimpin reli penguatan di kawasan regional dengan apresiasi mencapai 0,48%.
Posisi kedua ditempati oleh rupiah yang mencatatkan penguatan sebesar 0,35% di pasar spot.
Tren positif juga diikuti oleh ringgit Malaysia yang menguat 0,28% serta yuan China yang terapresiasi 0,19%.
Won Korea Selatan turut mencatatkan kenaikan nilai sebesar 0,18% terhadap dolar AS.
Selanjutnya, baht Thailand menguat 0,17% dan peso Filipina naik 0,15%.
Dolar Singapura mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,12% pada penutupan sesi perdagangan.
Rupee India menjadi mata uang dengan penguatan paling moderat di angka 0,06%.
Di sisi lain, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di kawasan Asia yang harus mengalami pelemahan.
Tercatat, dolar Hong Kong melemah tipis sebesar 0,05% terhadap dolar AS hingga akhir sesi perdagangan.
Pergerakan mata uang Asia ini selaras dengan pelemahan indeks dolar yang mengukur nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia lainnya.
Indeks dolar terpantau berada di level 100,80 pada akhir pekan ini.
Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan posisi sebelumnya yang sempat bertengger di level 100,90.
Stabilisasi mata uang regional ini dipengaruhi oleh dinamika pasar global yang turut memengaruhi arus modal masuk ke pasar keuangan Asia.
Para pelaku pasar kini tengah mencermati berbagai indikator ekonomi global yang memengaruhi kebijakan moneter di Amerika Serikat.
Dinamika ini diperkirakan akan terus berlanjut pada pekan perdagangan mendatang seiring dengan rilis data makroekonomi dari berbagai negara besar.
Ketahanan rupiah di tengah tekanan mingguan menjadi cerminan bahwa pasar domestik masih memiliki daya tarik bagi investor asing.
Kondisi ini diharapkan dapat berlanjut seiring dengan membaiknya sentimen pasar terhadap aset-aset berisiko di negara berkembang.























