Singapura – Harga minyak mentah dunia kembali menembus ambang batas psikologis US$ 100 per barel pada perdagangan Jumat (24/7/2026).
Lonjakan drastis ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya setelah kelompok Houthi melancarkan serangan terhadap kapal tanker di wilayah Laut Merah.
Data pasar mencatat harga minyak Brent berada di posisi US$ 100,82 per barel pada pukul 08.08 waktu Singapura.
Angka tersebut merepresentasikan kenaikan signifikan setelah minyak acuan dunia itu melonjak 7% pada sesi perdagangan sebelumnya.
Pencapaian ini menandai rekor pertama kalinya harga minyak melampaui level US$ 100 dalam kurun waktu dua bulan terakhir.
Secara akumulatif, kontrak berjangka minyak Brent telah mencatatkan penguatan sebesar 14% sepanjang pekan ini.
Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga terdongkrak naik ke level US$ 92,50 per barel.
Gangguan keamanan di jalur distribusi energi global menjadi katalis utama tingginya harga komoditas tersebut.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Teluk Persia telah mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz yang krusial bagi pasokan minyak mentah serta gas alam cair (LNG).
Chief Executive Officer Infrastructure Capital Management LLC, Jay Hatfield mengungkapkan kekhawatirannya terkait potensi harga yang lebih tinggi.
“Jika lalu lintas di Laut Merah menjadi sangat minim, maka kami memperkirakan harga minyak bisa mencapai US$ 120 per barel, ini menjadi titik balik bagi pasar,” ujarnya dikutip dari Bloomberg, Jumat (24/7).
Hatfield menambahkan bahwa jika transportasi energi benar-benar terhenti, maka dunia akan dipaksa melakukan penghematan konsumsi melalui mekanisme harga yang lebih mahal.
Di sisi lain, Laut Merah kini menjadi jalur ekspor vital bagi Arab Saudi guna menghindari Selat Hormuz.
Namun, ancaman dari kelompok militan yang berbasis di Yaman tersebut membuat para pembeli di Asia mulai mencari opsi pengiriman alternatif.
Sejumlah pelaku pasar melaporkan sedang bernegosiasi dengan Saudi Aramco untuk mengalihkan rute pengiriman melalui Terusan Suez dan memutari benua Afrika.
Situasi geopolitik kian memanas seiring dengan aksi militer Amerika Serikat yang telah melancarkan serangan ke Iran selama 13 hari berturut-turut.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan telah memberikan peringatan keras akan memperluas cakupan serangan militernya.
Teheran merespons ancaman tersebut dengan janji untuk membalas melalui serangan terhadap fasilitas energi di kawasan jika infrastruktur vital mereka disasar.
Trump menegaskan sikap pemerintahannya melalui media sosial Truth Social terkait pertanggungjawaban atas kerusakan aset di laut.
“Mulai saat ini, setiap dan seluruh kerusakan terhadap kapal, kargo, atau apa pun yang berkaitan dengannya akan dibayar menggunakan uang milik Iran. Uang mereka saat ini berada dalam penguasaan dan kendali Amerika Serikat,” tegasnya.




















