Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja positif pada pembukaan pekan ini, Senin (20/7/2026), dengan ditutup menguat 0,91% ke level 6.231,78.
Dominasi aksi beli oleh pelaku pasar menjadi penopang utama kenaikan indeks di tengah sentimen pasar yang dinamis.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyoroti ketahanan pasar domestik terhadap tekanan eksternal.
“IHSG ditutup menguat di level 6.231,78 meskipun harga minyak mentah menguat hingga sempat menyentuh US$90 per barel untuk Brent akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Alrich dikutip dari laporan resmi, Senin (20/7/2026).
Kenaikan harga minyak mentah dunia tersebut dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang memberikan tekanan pada biaya logistik dan energi global.
Namun, minat investor terhadap aset domestik tetap terjaga dengan sektor industri memimpin penguatan, meski sektor teknologi mengalami koreksi teknis.
Dari sisi teknikal, Alrich mengamati adanya indikasi penguatan lanjutan meski ruang geraknya mulai terbatas.
“Terjadi pelebaran histogram positif MACD, namun Stochastic RSI sudah berada di area overbought. IHSG juga ditutup di atas MA50 dengan didukung kenaikan volume beli,” jelasnya dikutip dari analisis teknikal, Senin (20/7/2026).
Berdasarkan proyeksi teknikal tersebut, IHSG diprediksi akan menguji level resistance di kisaran 6.250 hingga 6.300 dalam beberapa waktu ke depan.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengonfirmasi bahwa penguatan ini selaras dengan tren aliran dana masuk atau inflow ke pasar saham dalam tiga hari terakhir.
“Dalam tiga hari terakhir perdagangan terdapat inflow ke pasar saham, penguatan IHSG juga disertai dengan menguatnya nilai tukar rupiah,” ujar Herditya dikutip dari keterangan pers, Senin (20/7/2026).
Meski demikian, pelaku pasar diminta tetap waspada terhadap potensi aksi ambil untung atau profit taking pada perdagangan hari berikutnya.
“Untuk besok, kami perkirakan IHSG bergerak menguat terbatas dengan support di 6.194 dan resistance di 6.264, serta rawan terjadi profit taking,” tambah Herditya.
Sentimen utama yang kini ditunggu pasar adalah keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) yang diprediksi konsensus akan naik ke level 6%.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa investor saat ini sedang bersikap antisipatif terhadap sejumlah agenda ekonomi makro global dan domestik.
“Investor mengantisipasi RDG Bank Indonesia, rilis PMI global, keputusan suku bunga ECB, serta perkembangan konflik geopolitik Timur Tengah,” ujar Nafan dikutip dari analisis pasar, Senin (20/7/2026).
Secara teknikal, Nafan menetapkan level support IHSG berada di 6.137 dan 6.012, dengan resistance di 6.261 hingga 6.416.
Terkait strategi investasi, pelaku pasar disarankan untuk mencermati saham-saham seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) pada kisaran harga Rp 4.320 hingga Rp 4.600.
Selain itu, saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) di rentang Rp 164 hingga Rp 170, serta PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) pada kisaran Rp 432 hingga Rp 468 per saham juga dinilai menarik untuk diperhatikan.
Di pasar spot, nilai tukar rupiah tercatat melemah tipis sebesar 0,15% ke level Rp17.948 per dolar Amerika Serikat.
Dinamika antara penguatan indeks saham dan pelemahan mata uang ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam merespons ketidakpastian geopolitik global yang meningkat.
























