Rupiah Kian Perkasa, Ekonom Ingatkan Batas Suku Bunga Tinggi

Kholida Rahman

Rupiah Kian Perkasa, Ekonom Ingatkan Batas Suku Bunga Tinggi

Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil keluar dari zona psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (20/7/2026).

Mata uang Garuda mencatatkan penguatan di pasar spot ke level Rp17.921 per dolar AS.

Tren positif ini dipicu oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang melandai ke angka 100,765.

Meskipun apresiasi terjadi, para pengamat pasar memperingatkan bahwa kondisi ini belum mencerminkan pemulihan fundamental yang permanen.

Tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri serta beban impor energi menjadi penghambat utama stabilitas rupiah jangka panjang.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pelemahan dolar AS saat ini hanya bersifat koreksi teknis.

Pasar global saat ini masih menunggu kejelasan arah kebijakan suku bunga dari bank sentral AS, The Fed.

“Fokus berikutnya seharusnya bergeser pada peningkatan pasokan devisa melalui implementasi DHE SDA, menjaga kredibilitas fiskal agar kepercayaan investor tetap terpelihara, serta memperbaiki struktur ekspor dan mengurangi ketergantungan impor energi,” kata Yusuf melalui keterangan tertulis yang diterima pada Jumat (17/6/2026).

Menurutnya, dorongan eksternal tidak akan cukup untuk menjaga rupiah di bawah level Rp17.500 tanpa adanya perbaikan fundamental di sisi pasokan devisa domestik.

Ruang gerak Bank Indonesia untuk terus mengandalkan instrumen suku bunga guna menahan pelemahan kurs dinilai sudah semakin sempit.

Kebijakan suku bunga tinggi yang berkepanjangan dikhawatirkan justru akan menciptakan beban biaya ekonomi yang memberatkan sektor riil.

Pemerintah dan otoritas moneter disarankan untuk segera mengubah strategi stabilisasi mata uang.

Fokus kebijakan perlu dialihkan dari intervensi pasar yang menguras cadangan devisa ke arah perbaikan sektor riil.

Penguatan pengelolaan sektor komoditas dan ekspor bernilai tambah menjadi kunci untuk meredam dampak ketidakpastian geopolitik global terhadap rupiah.

Memasuki kuartal III-2026, pergerakan nilai tukar rupiah diprediksi masih akan berada dalam rentang fluktuatif yang cukup lebar.

Rentang pergerakan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp18.200 per dolar AS.

Arah tren mata uang domestik akan sangat bergantung pada dinamika arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan tanah air.

“Perlu ditekankan perbedaan antara rupiah yang stabil karena ditopang suku bunga tinggi dan intervensi dengan rupiah yang benar-benar kuat karena ditopang fundamental ekonomi dan masuknya devisa,” ujar Yusuf.

Transisi dari ketergantungan intervensi menuju penguatan fundamental menjadi tantangan utama ekonomi Indonesia di sisa tahun 2026.

Integrasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur sangat krusial untuk menjaga daya tahan rupiah di tengah guncangan ekonomi global yang masih sarat akan risiko volatilitas.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar