Jakarta – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia mencatatkan penguatan pada perdagangan Selasa (21/7/2026) pagi.
Pergerakan positif ini terjadi setelah pasar sempat mengalami tekanan jual selama tiga hari berturut-turut.
Sentimen pasar mulai membaik seiring dengan meredanya aksi jual pada saham-saham perusahaan sektor semikonduktor atau chip.
Data perdagangan menunjukkan indeks Nikkei 225 di Jepang memimpin dengan kenaikan 708,60 poin atau 1,17% ke level 64.840,99.
Kenaikan signifikan juga terjadi pada indeks Kospi yang melesat 141,01 poin atau 2,23% ke angka 6.661,91.
Sementara itu, indeks Taiex terpantau menguat 584,10 poin atau 1,26% menuju posisi 43.031,52.
Di pasar lainnya, indeks Hang Seng naik tipis 7,49 poin atau 0,03% ke level 25.150,54.
Indeks Straits Times di Singapura turut menghijau dengan kenaikan 11,57 poin atau 0,22% ke posisi 5.510,56.
FTSE Malaysia juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,10 poin atau 0,01% ke level 1.722,39.
Namun, tidak semua bursa di kawasan ini berada di zona hijau, di mana indeks ASX 200 justru melemah 25,77 poin atau 0,29% ke level 8.765,50.
Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia Pasifik berhasil menguat sebesar 0,5% pada sesi pagi hari ini.
Kondisi pasar yang membaik ini didorong oleh antusiasme investor menjelang pengumuman laporan pendapatan perusahaan-perusahaan raksasa global pekan ini.
Pelaku pasar kini menaruh perhatian penuh pada rilis kinerja keuangan tersebut untuk mencari sinyal mengenai keberlanjutan tren pertumbuhan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Meski demikian, para pelaku pasar tetap menjaga sikap waspada menghadapi berbagai sentimen eksternal yang menekan sentimen risiko.
Harga minyak mentah yang bertahan di level tinggi menjadi salah satu faktor yang membatasi pergerakan pasar.
Selain itu, peningkatan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Situasi tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran alokasi portofolio dari aset saham teknologi ke aset yang lebih defensif.
“Situasi di Iran yang terus mengguncang pasar menghambat kenaikan harga saham yang seharusnya diharapkan, mengingat tren pendapatan yang kuat,” ujar Louis Navellier, ahli strategi senior, sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Selasa (21/7/2026).
Ketidakpastian geopolitik tersebut dinilai menjadi tantangan utama bagi indeks saham untuk mencatatkan reli yang lebih panjang.
Investor kini menanti apakah fundamental perusahaan, terutama di sektor teknologi, cukup kuat untuk menahan gejolak makroekonomi yang terjadi.
Secara teknikal, pemulihan di bursa Jepang, khususnya indeks Nikkei, dinilai cukup impresif mengingat pasar tersebut baru saja kembali beroperasi setelah libur perdagangan.
Analisis pasar menunjukkan bahwa fokus investor saat ini telah bergeser dari sekadar spekulasi menuju evaluasi mendalam atas laporan laba perusahaan.
Keberhasilan perusahaan-perusahaan besar dalam mempertahankan margin keuntungan akan menentukan arah pergerakan bursa Asia dalam jangka pendek.

























