Harga Minyak Melonjak, Bitcoin Tetap Tangguh Karena Alasan Ini

Harga Minyak Melonjak, Bitcoin Tetap Tangguh Karena Alasan Ini

Jakarta – Ketegangan geopolitik yang kembali memuncak di Timur Tengah akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent secara signifikan.

Data Trading Economics pada Selasa (21/7/2026) pukul 10.10 WIB mencatat harga minyak Brent berada di level US$ 88,6 per barel.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 4,65% dalam kurun waktu sepekan terakhir.

Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terkait ancaman penutupan Selat Hormuz serta gangguan pada jalur distribusi kapal tanker di kawasan tersebut.

Secara akumulatif, harga minyak telah melonjak lebih dari 15% sepanjang bulan terakhir akibat meningkatnya premi risiko geopolitik global.

Kondisi ini membawa tantangan ekonomi nyata bagi Indonesia, mulai dari potensi lonjakan inflasi hingga tekanan berat pada nilai tukar rupiah.

Biaya energi domestik diprediksi akan semakin mahal seiring dengan kenaikan harga komoditas global tersebut.

Namun, di tengah volatilitas pasar keuangan global, Bitcoin justru menunjukkan ketahanan yang mengejutkan investor.

Aset kripto utama ini diperdagangkan di kisaran US$ 65.405 dengan kenaikan 1,91% dalam sebulan terakhir.

Kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini tetap kokoh berada di atas angka US$ 1,29 triliun.

Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran pola perilaku investor dalam merespons ketidakpastian dunia.

Analis Reku, Andri Fauzan, menilai bahwa pasar kini mulai memandang Bitcoin sebagai instrumen emas digital.

“Bitcoin mulai diperlakukan seperti emas digital oleh investor besar ketika ketidakpastian geopolitik meningkat,” ujar Andri dalam keterangannya, Senin (20/7/2026) malam.

Menurutnya, perilaku pasar saat ini sangat berbeda dibandingkan dua atau tiga tahun lalu.

Dulu, Bitcoin cenderung mengalami aksi jual masif setiap kali sentimen risiko pasar memburuk.

Data dari pergerakan dompet blockchain memperlihatkan adanya akumulasi besar-besaran oleh investor kelas kakap atau whale dalam dua pekan terakhir.

Sejak awal Juli 2026, para pemegang Bitcoin bermodal besar tercatat telah mengakumulasi lebih dari 270.000 BTC.

Nilai akumulasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$ 16,7 miliar.

Salah satu pelaku pasar bahkan berani membuka posisi beli dengan leverage 40 kali senilai US$ 107 juta pada level harga US$ 64.000.

Langkah strategis tersebut dinilai sebagai sinyal keyakinan kuat terhadap arah pergerakan aset kripto dalam jangka menengah.

“Ketika harga terkoreksi dan investor ritel biasanya panik, investor besar justru menambah posisi,” kata Andri.

Ia menegaskan bahwa pola ini sudah berulang beberapa kali dalam siklus Bitcoin dan sering kali mendahului pergerakan harga yang lebih signifikan.

Berbagai analis global kini memproyeksikan potensi kenaikan harga Bitcoin hingga menyentuh kisaran US$ 100.000 sepanjang tahun 2026.

Optimisme ini didorong oleh tiga faktor utama, yakni peningkatan arus masuk dana ETF Bitcoin serta adopsi institusi keuangan besar yang semakin meluas.

Selain itu, dinamika pasar pasca-halving secara historis telah terbukti menjadi katalis kenaikan harga dalam jangka panjang.

Bitcoin menawarkan proposisi unik berupa pasokan yang terbatas dan independensi dari kebijakan pemerintah manapun.

“Dalam kondisi inflasi energi seperti sekarang, investor perlu mempertimbangkan diversifikasi ke aset yang tidak terpengaruh langsung oleh kebijakan pasokan minyak atau keputusan bank sentral,” pungkas Andri.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar